Minggu, 05 Februari 2017

Roselia Prologue

   Dahulu kala, para Dewa dan Dewi turun ke dunia untuk hidup bersama-sama dengan penghuni dunia. Mereka kemudian memilih sejumlah orang dan memberkati orang-orang tersebut dengan anugerah mereka. Sebagai imbalan dari anugerah tersebut, orang-orang yang terpilih melayani Dewa dan Dewi mereka; menjalankan setiap titah yang diturunkan dari Dewa/Dewi yang disembah.

Namun, beberapa ratus tahun yang lalu, terjadi sebuah bencana hebat...

Energi kehidupan yang disebut sebagai "Pohon Kehidupan" tiba-tiba menjadi sangat tidak stabil. Para monster mulai bermunculan di mana-mana dan mengamuk. Iblis mulai menampakan diri mereka di segala penjuru dunia. Desakan-desakan politik dan tekanan atas banyak ancaman yang tiba-tiba muncul sudah mulai menunjukan percikan-percikan api perperangan di segala belahan dunia.

Ditambah lagi, ada desas-desus tentang keanehan-keanehan yang terjadi. Beberapa tempat di dunia menjadi "terkontaminasi" oleh sesuatu yang mengubah siapapun yang terekspos pada "hal itu" menjadi sosok monster mengerikan.




***************
Roselia
Prologue
Setangkai Mawar di Pinggir Jalan



  Lakia, sebuah kota di tepi pantai yang menjadi bagian dari Middleland Empire. Sebuah kota yang dikenal sebagai lumbung pangan Middleland Empire. Kota ini dibentengi oleh dinding batu yang sangat megah dengan banyak sekali menara pengawas dan pengawasan yang hebat untuk melindungi warganya.

Sebagai salah satu kota yang besar, Lakia dibagi menjadi beberapa distrik. Distrik umum, yang merupakan tempat di mana orang-orang kalangan bawah hingga menengah tinggal. Distrik pasar, sebuah distrik yang terhubung langsung dengan pantai yang berfungsi bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga berfungsi sebagai pelabuhan. Yang terakhir; distrik Elit; sebuah distrik yang dikelilingi oleh dinding dan juga dipenuhi dengan penjaga elit. Tak heran, distrik elit adalah tempat di mana orang-orang berstatus tinggi dan orang-orang penting Empire tinggal.

Namun, tidak semua orang cukup beruntung untuk bisa memiliki usaha untuk bertahan hidup atau bahkan tempat untuk dipanggil rumah. Orang-orang yang tidak memiliki uang ataupun tempat tinggal, terpaksa tidur di tempat-tempat pembuangan sampah dan mengais-ngais sisa-sisa makanan dan minuman. Beberapa dari mereka bahkan mencuri demi bertahan hidup.

  Seorang perempuan dengan pakaian kusam sedang mengais-ngais sebuah tempat sampah di samping sebuah restoran megah di distrik Elit. Letak tempat sampahnya berada pada lorong yang terbentuk karena letak restoran yang berdempetan dengan sebuah toko perhiasan.

Biasanya, pada tempat sampah di restoran tidak ada makanan yang tersisa namun pada distrik Elit, tiap tempat sampah selalu memiliki setidaknya kelebihan makanan. Orang-orang kalangan elit cenderung memesan makanan melebihi kemampuan mereka untuk memakannya hanya sekedar untuk "mendemonstrasikan" kekayaan mereka.

Kebiasaan buruk itu sudah diwariskan turun temurun sejak awal pecahnya perang dunia I yang telah berakhir beberapa puluh tahun yang lalu. Bahkan sekarangpun, ketidakstabilan politik yang terjadi di luar sana membuat banyak sekali keluarga elit berlomba-lomba memamerkan kekayaan mereka dengan harapan dapat menarik perhatian dari keluarga kerajaan.

Perempuan yang mengais-ngais tempat sampah ini berhenti bergerak untuk sesaat. Dia berhasil menemukan 2 bungkus roti merek ternama yang hanya dimakan oleh mereka yang memiliki uang yang banyak.

Dia tersenyum bahagia. Dia mengambil kedua roti yang masih terbungkus. Dia bisa merasakan betapa hangatnya kedua makanan yang dipegang oleh tangannya yang kotor.

Tepat pada saat bersamaan, seorang laki-laki, pegawai dari restoran keluar lewat pintu belakang untuk membuang air panas. Dia melihat perempuan yang sedang mengais-ngais tempat sampah.

  "Masih datang lagi? Dasar" gumamnya

Laki-laki itu mengayunkan panci yang berisi air panas yang dipegangnya dan menyiram perempuan itu dengan air panas mendidih. BYUR!! Tersiram dengan air panas, perempuan itu terjatuh ke tanah tetapi kedua tangannya masih memegang erat roti yang ditemukannya.

Sambil menahan rasa sakit karena kepanasan, dia membuka matanya dan melihat pegawai restoran yang menyiramnya dengan air panas. Sebelum pegawai restoran itu bisa melontarkan makian seperti biasa, perempuan berambut merah bangkit berdiri dan langsung berlari secepat mungkin keluar dari lorong dengan pegawai tersebut mengejar-ngejarnya di belakang.

Perempuan berambut merah ini, sudah terbiasa dikejar-kejar oleh pemilik toko dan penjaga sehingga kedua kakinya sudah terbiasa bergerak dengan sangat cepat. Hanya dalam waktu singkat saja, dia sudah membuat jarak yang sangat jauh antara dirinya dan pegawai toko.

Ketika dia akan keluar lorong, ada beberapa orang yang mengenakan pakaian baja perak melintas di hadapannya. Mengenakan sepatu bot dari kulit hewan berwarna coklat dan logo kota Lakia yang tidak lain adalah ikan terpampang pada perisai mereka. Bisa dipastikan, orang-orang ini adalah pasukan penjaga kota.

  BUGH! Perempua berambut merah menabrak salah satu dari mereka dan terjatuh ke tanah. Mereka berhenti berjalan dan menatap perempuan yang menabrak teman mereka.

Salah satu dari penjaga, seorang pria 36 tahun mengangkat kedua alisnya melihat perempuan berambut merah yang menabrak salah satu kawannya. Hardric, namanya.

  "Roselia?" ucapnya

Perempuan berambut merah hanya menundukan kepalanya. Pegawai restoran akhirnya bisa menyusul juga. Meski nafasnya sangat tidak beraturan karena kelelahan mencoba mengejar Roselia, setidaknya sekarang dia bisa melaporkan Roselia pada para penjaga.

  "Hei, kalian penjaga kota kan? Tangkap dia!"
  "Nah~nah, tunggu dulu. Apa yang terjadi?" tanya Hardric


  "Perempuan ini..." Pegawai restoran menunjuk pada Roselia yang hanya duduk diam di tanah, menundukan kepalanya. "Dia telah mengganggu kenyamanan pelanggan dengan mengais-ngais tempat sampah di samping restoran!"

Para penjaga kota hanya menatapnya. Roselia bahkan tidak mengangkat kepalanya tetapi para penjaga bisa melihat jelas jika dia memegang erat kedua roti yang diambilnya dari tempat sampah. Hardric menatap pada salah satu temannya yang merupakan komandannya, dia hanya menggelengkan kepalanya.

Hardric menghela napas singkat.

  "Yaah, tidak ada peraturan yang melarang orang untuk mengais-ngais makanan di tempat sampah jadi kami tidak bisa menangkapnya begitu saja" jawab Hardric
  "Apa? Hei, aku tidak peduli! Jika bos tahu tentang ini, aku bisa dipecat!" protes pegawai sambil menendang Roselia dari belakang dengan sepatunya
  "Tuan, jika anda melakukan itu lagi, kami yang akan menangkap anda karena sudah mengganggu keamanan sekitar" balas salah satu kawan Hardric

Mendengar teguran itu, pegawai restoran berhenti menendang Roselia. Dia menatap para penjaga kota dengan rasa kesal tetapi penjaga kota hanya menatapnya balik, kemudian mereka menjelingkan mata mereka ke kiri dan ke kanan. Melihat itu sebagai sebuah kode, pegawai restoran melihat ke kiri dan ke kanan dan menyadari jika ada banyak orang sedang memperhatikannya.

Sebenarnya, orang-orang di sekitar sama sekali tidak peduli pada tindakannya pada Roselia tetapi mereka merasa terusik dengan suaranya yang tinggi. Mengingat dia sedang mengenakan seragam restoran, hal ini akan membawa dampak negatif bagi restoran tempat di mana dia bekerja. Dengan kesal, dia akhirnya melangkah mundur.

  "Tetapi untuk alasan keamanan, kami akan membawanya keluar dari distrik ini sekarang juga" sambung Hardric. "Bagaimana?"
  "Tch, kurasa itu saja sudah cukup" balasnya. "Hei jalang, kalau kau datang lagi, bisa saja nanti bos akan melemparimu dengan air yang jauh lebih panas"

Pegawai restoran tersebut berjalan kembali ke dalam lorong dan masuk ke dalam restoran melalui pintu belakang dengan kesal.

Roselia bangkit berdiri tetapi dia masih menundukan kepalanya ke bawah. Dia sangat malu dan tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat para penjaga kota yang telah membantunya tadi. Komandan regu penjaga menepuk pundak Hardric perlahan dan beranjak pergi bersama kawan-kawan Hardric untuk melanjutkan patroli mereka. Hanya meninggalkan Hardric sendiri bersama Roselia.

Hardric menepuk kepala Roselia dengan perlahan, dia sama sekali tidak begitu keberatan dengan rambut Roselia yang merah tapi kotor akan mengotori sarung tangannya.

  "Ya ampun kau ini, entah bagaimana caranya, kau selalu dianggap sebagai masalah" komentar Hardric
  "Paman .... Maaf" balas Roselia
  "Kau tahu sendiri kan bagaimana sifat orang-orang di distrik elit? Dengar Roselia, tempatmu bukanlah di sini. Mereka sangat membenci orang-orang yang tidak setingkat dengan mereka, jadi ayo, aku akan mengantarmu"

Roselia melangkah mundur sedikit saat Hardric akan menyentuh tangannya. Roselia menggelengkan kepalanya.

  "Apakah akan ada bedanya?" tanya Roselia

Hardric mengangkat alis matanya dan mengelus-ngelus dagunya karena tidak paham. Roselia mengangkat wajahnya sedikit untuk melihat Hardric tetapi kemudian langsung menundukan kepalanya lagi.

  "Aku tahu tempatku bukan di sini. Tetapi .... Di luar sana juga bukan tempatku. Aku tidak punya tempat untuk dipanggil rumah ataupun orang yang mau dipanggil keluarga olehku. Ke manapun aku pergi, akan tetap sama saja kan?"

Hardric hanya diam. Meskipun Roselia memanggilnya paman, tetapi sebenarnya mereka tidak ada hubungan keluarga.

  Roselia sudah dikenal oleh seluruh penjaga kota sebagai seorang pengemis tanpa rumah, tanpa keluarga dan tanpa kemampuan. Mereka semua tahu, dia pernah mencoba bekerja di manapun tetapi tidak ada satupun orang yang mau menerimanya. Ke manapun dia pergi, orang-orang akan meludahinya, menendangnya, melemparinya, mencacinya dan memukulnya supaya pergi.

Meskipun menerima perlakuan kasar, ajaibnya, dia tidak pernah melakukan tindakan kriminal seperti mencuri atau mencopet ataupun membunuh karena dendam sedikitpun. Kemungkinan karena dia tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Dia selalu menyendiri dan mengais-ngais di tempat sampah.

Roselia memalingkan badannya ke arah lain. Dia tahu jalan keluar dari distrik.

  "Aku akan keluar sendiri. Maaf sudah merepotkanmu paman"

Roselia berjalan dengan perlahan meninggalkan Hardric. Pria tua ini hanya menggaruk-garuk kepalanya karena hanya tidak bisa berkutik apapun untuk meringankan beban hidup yang ditanggun oleh Roselia.

Dia menyadari Roselia berhenti sesaat dan melihat pada sepasang suami-istri yang menggandeng tangan seorang anak kecil. Mereka mengenakan gaun dan jas yang rapi dan bersih. Perhiasan dan pernak-pernik bisa terlihat jelas.

Roselia menundukan kepalanya. Bajunya sangat kusam, penuh dengan debu. Celananya robek di sana-sini. Dia bahkan tidak punya sendal sedikitpun. Setiap hari, dia selalu mengenakan pakaian yang sama dan tidak pernah mandi.

Hardric mulai berpikir, betapa tangguhnya Roselia. Dia masih sangat muda. Hanya 16 tahun dan sudah merasakan kerasnya kehidupan. Kedua anaknya Hardric yang di rumah, masing-masing berumur 7 dan 9 tahun punya tempat untuk tidur, bisa bersekolah, memiliki makanan dan minuman. Terlebih lagi, mereka punya orang tua.

Hardric menghela napas singkat.

  "Roselia"

Roselia memalingkan kepalanya pada Hardric, tetapi di wajahnya terlihat jelas jika dia hanya bisa iri melihat keluarga yang utuh dan bahagia.

  "Dia yang tidak berani menyentuh duri, tidak boleh mendambakan setangkai mawar" ucapnya

Roselia memalingkan badannya pada Hardric. Kedua matanya terbuka lebar.

  "Itu adalah motto dari penjaga kota Lakia. Dengar Roselia, hidup itu tidak pasti. Hari ini, mungkin kau mendapatkan duri, tetapi siapa tahu besok kau akan mendapatkan kelopak bunga. Seandainya kau terus hidup di dalam duri, tetaplah pertahankan kebaikan hatimu itu nak"

Roselia langsung tersenyum lebar. Dia menganggukan kepalanya dengan semangat.

  "Terimakasih! Paman!"

Roselia membalikan badannya dan berlari dengan keceriaan di wajahnya. Hardric hanya menggaruk-garuk kepalanya karena dia sendiri tidak paham apa yang baru saja diucpakannya. Dia hanya memodifikasi sedikit dari kutipan dari buku yang biasa dibaca oleh Roselia.

  "Anak itu, benar-benar masih polos dan terlalu baik untuk menderita seperti itu" pikirnya dalam hati

*********

  Sore harinya, pada pantai di distrik pasar, Roselia berlari menelusuri jalan batu menuju ke pantai. Dengan senyuman lebar pada wajahnya, dia berlari menginjak pasir pantai sambil mengabaikan orang-orang yang melihatnya dengan rasa geli karena penampilannya yang kotor.

Tujuan Roselia hanya 1, sebuah altar kuno yang ada pada tepi pantai. Tak perlu waktu lama untuk siapapun untuk bisa menemukan altar tersebut di tepi pantai yang terbuka luas.

Altar tersebut sangat sederhana. Tidak lebih dari sebuah tanah berbentuk persegi yang dilapisi semen berwarna perak. Di tengah-tengah altar tersebut ada sebuah pedang yang telah berkarat karena tak pernah dirawat. Tepat di depan pedang berkarat ada sebuah mangkok sederhana yang terbuat dari kaleng bekas yang dikumpulkan oleh Roselia.

Altar itu adalah altar yang katanya, milik seorang dewi bernama Vydia. Namun sudah lama sekali orang-orang tidak pernah mendengar kabar tentang Dewi Vydia sehingga tidak ada lagi yang percaya jika dewi tersebut benar-benar ada.

Sesampainya dia di altar, Roselia melangkah dengan perlahan. Dia berlutut di depan pedang yang berkarat. Dia meletakan salah satu roti yang dibawanya di dalam mangkok di depan pedang berkarat. Roselia menepuk tangannya sekali kemudian dia melipat kedua tangannya dan menutup matanya

  "Dewi Vydia. Maafkan aku karena terlambat hari ini. Hanya ini yang bisa kukumpulkan hari ini. Kuharap Dewi Vydia sama sekali tidak keberatan" ucapnya

  Roselia membuka matanya. Dia berdiri dan melangkah mundur kemudian duduk di samping tepi altar. Dia mengeluarkan sebuah buku tua yang di simpan di belakangnya. Bukunya sedikit basah akibat disiram tadi siang tetapi setidaknya, tidak ada halaman yang robek.

Roselia memperhatikan cover buku tersebut. Sebuah buku berwarna biru tua tanpa judul maupun nama penulisnya. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, buku ini mengandung sejarah, cerita dongeng, cerita-cerita tentang pahlawan dan kepercayaan yang ada di dunia.

Roselia merobek kantong yang membungkus roti yang dipegangnya, dia mulai menyantap roti sambil membuka buku yang ingin dibacanya. Halaman demi halaman di baliknya dengan perlahan.

  "Kisah pahlawan pemberani.... Sudah berkali-kali aku membaca cerita ini tetapi aku tidak pernah bosan" gumam Roselia. "Aaaah, menjadi pahlawan itu benar-benar keren"

Roselia melihat pada langit sore hari ini. Awan putih tebal dan langit sore yang menghiasi pemandangannya membuatnya sedikit terbawa khayalannya yang ingin menjadi seorang pahlawan.

  "Mengangkat senjata dan menyelamatkan semua orang. Berpetualang mengelilingi dunia pasti sangat keren! Bertemu dengan berbagai macam orang, mengenal budaya orang-orang luar.... Selama ini aku hanya melihat orang dari luar datang ke sini tetapi sama sekali belum pernah beranjak pergi meninggalkan kota ini"

Roselia membalikan badannya dan melihat pada pedang di tengah-tengah altar.

  "Dewi Vydia juga, pasti ingin pergi berkeliling" gumamnya

Roselia kembali memfokuskan perhatiannya pada buku yang dipegangnya. Dewi Vydia, dewi yang konon katanya pernah memiliki banyak pengikut tetapi secara mendadak kehilangan seluruh pengikutnya.

Roselia hanya bisa penasaran apa yang terjadi. Dia merasa kasihan pada Dewi Vydia. Roselia berpikir mungkin saja Sang Dewi sekarang sedang merasa kesepian dan sedih karena tidak ada orang lagi yang mau menyembahnya.

  Tiba-tiba saja, dia merasa seperti sedang diawasi. Roselia melihat-lihat sekelilingnya, hanya ada beberapa pedagang dan nelayan yang berlalu lalang. Dia menyadari beberapa dari mereka menertawai dirinya. Di mata orang lain, dia tidak lebih dari orang gila. 

Beberapa orang datang menghampiri altar. Mereka tidak datang untuk berdoa, tetapi untuk menertawakan Roselia. 5 orang jumlahnya. Jika dinilai dari pakaian yang mereka kenakan, terlihat jelas jika mereka adalah orang dari luar kota.

  "Cantik-cantik tapi gila. Sayang sekali"

Orang-orang tersebut menertawakan Roselia. Mereka mulai mengejeknya tetapi dia hanya cuek dengan ejekan. Dia sudah terbiasa dihina.

  "Lagipula, kau masih menyembah pedang tua karatan ini? Pfft, tidak bisa dipercaya!" ujar salah satu dari pendatang

Salah seorang dari pendatang melihat mangkok yang diletakan di depan pedang berkarat di altar. Dia mengayunkan kakiknya ke belakang kemudian ke depan untuk menendang mangkok tersebut tetapi sebelum kakinya menyentuh mangkok, Roselia bergerak dan melindungi mangok tersebut dengan badannya sehingga dirinyalah yang terkena tendangan.

Terkejut dengan pergerakan cepat Roselia, orang-orang pendatang terdiam sesaat.

  "Kumohon, jangan hina Dewi Vydia" ucap Roselia sambil mengangkat kepalanya. "Kalian boleh menghinaku sesuka kalian, kalian boleh menginjakku sesuka kalian, kalian boleh memukulku sesuka kalian.... Tetapi jangan pernah kalian merebut apa yang menjadi milik Dewi Vydia"

Para pendatang hanya menatap satu sama lain untuk sesaat.

  "Kalau begitu, bersujudlah di depan kami!" perintah salah satu dari mereka.

  Roselia menganggukan kepalanya. Dia meletakan mangkok yang dilindunginya dan kemudian bersujud di depan para pendatang tanpa keraguan sedikitpun. Terkejut karena Roselia benar-benar melakukannya tanpa berpikir 2 kali membuat para pendatang terkesan. Salah satu dari mereka menginjak belakang kepalanya beberapa kali sambil tertawa.

Mereka terus melakukan itu selama beberapa menit sambil melemparkan makian dan menertawakannya dengan harapan, Roselia akan emosi tetapi kenyataanya; hal itu tidak terjadi. Roselia dengan teguhnya terus bersujud dan membiarkan dirinya diinjak-injak.

  "Tch, oi, dia tidak marah-marah juga. Terlalu membosankan" ujar salah satu dari mereka
  "Apa boleh buat, kalau begitu kita rusaki saja altar ini" usul pendatang yang lain
  "A-apa kau yakin? Ini adalah altar lho!"
  "Ayolah, siapa si Vydia ini? Nama itu sama sekali tidak pernah didengar selama 3 generasi berturut-turut!"

Roselia mengangkat kepalanya. Tanpa disadarinya, air matanya mulai mengalir keluar.

  "Kumohon! Jangan!" ucapnya
  "Teruslah berharap" balas salah satu pendatang

Roselia mulai menangis. Dia mengepalkan kedua tangannya. Untuk pertama kalinya, dia merasa kesal karena dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa berkelahi dan dia sangat yakin, tidak ada orang yang mau mendengarkan dia jika dia minta tolong. Dia bisa saja minta tolong pada Hardric tetapi itu membuat dia harus berlari ke distrik elit lagi dan itu memakan waktu terlalu lama.

  Beruntungnya Roselia, ada seseorang dengan jubah hitam panjang menghampiri altar. Tudung jubahnya menutupi sedikit dari wajahnya tetapi Roselia bisa melihat dengan jelas jika orang berjubah hitam ini adalah seorang perempuan.

Para pendatang yang mengganggu Roselia berhenti dan melihat orang berjubah hitam. Siapapun sosok berjubah hitam ini, dia terlihat sangat marah pada para pendatang.

  "Memilih lawan yang sama sekali tidak bisa melawan balik. Serendah itukah harga diri kalian?" tegurnya dengan suara yang tegas
  "Hah? Bacot kau, memangnya kau tahu apa?" balas salah satu pendatang

Dalam sekejap mata, sosok itu sudah ada di hadapan para pendatang. Sebelum mereka bisa merespon,, dia menendang mereka semua. Para pendatang terlempar menjauhi altar. Mereka bangun dan langsung melarikan diri karena mengetahui, siapapun sosok dengan jubah hitam itu mengetahui cara untuk berkelahi.

Sosok jubah hitam menunduk dan melihat Roselia.

  "Kau tidak apa-apa?"

Roselia menatap sosok yang menyelamatkannya dengan kedua mata yang terbuka lebar dan berkaca-kaca. Roselia menganggukan kepalanya perlahan.

Sosok itu menghembuskan nafas lega. Dia memalingkan wajahnya ke arah pedang berkarat kemudian dia memperhatikan Roselia lagi.

  "Apakah kau yang mengurus altar ini?" tanya sosok tersebut
  "Eh?" Roselia memiringkan kepalanya
  "Lantai altar ini, lumayan bersih untuk kategori altar yang sepertinya tidak memiliki pengunjung. Pasti ada seseorang yang datang ke sini untuk membersihkannya tiap hari"

Roselia bangkit dan menganggukan kepalanya perlahan.
  "Kenapa kau melakukannya?" tanya sosok perempuan berubah hitam dengan penasaran
  "Eh?"
  "Kenapa kau memperhatikan altar ini? Padahal, siapapun Dewi yang disembah di sini sepertinya namanya tidak pernah terdengar" 

Roselia hanya tersenyum sambil memperhatikan pedang berkarat di tengah-tengah altar.

  "Karena ini adalah milik Dewi Vydia" jawabnya
  "Hm?"
  "Tidak mungkin sebuah altar dibuat jika tidak ada dewi atau dewanya kan? Tidak peduli apa yang dibilang oleh orang. Aku yakin Dewi Vydia pasti ada. Karena tidak ada yang pernah mendengar namanya dan juga ini adalah satu-satunya altar yang kuketahui yang didedikasikan padanya, aku yakin dia pasti ada"

Roselia mengambil buku yang dibacanya tadi sambil mempertahankan senyum kecil.

  "Lagipula, aku tidak punya tempat untuk dipanggil rumah ataupun orang untuk dipanggil keluarga jadi aku tidak punya tempat untuk pergi selain altar ini"

Perempuan berjubah hitam terdiam sesaat. Dia menganggukan kepalanya dan tersenyum. Dia menepuk kepala Roselia. Roselia bisa mencium aroma parfum yang sangat wangi.

  "Kau ini benar-benar orang yang polos ya" komentarnya
  "Eh?" Roselia hanya melongo

Sosok perempuan berjubah hitam bangkit berdiri.

  "Aku harus pergi, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan"
  "Eh, ah! Terima kas-"

Sebelum Roselia bisa menyelesaikan ucapannya, perempuan itu beranjak pergi dengan cepat. Roselia terdiam sesaat. Dia menatap pedang berkarat sekali lagi.

Roselia hanya bisa merasa kesal pada dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan penuh air mata, dia bersujud di depan pedang berkarat.

  "Dewi Vydia, maafkan aku karena tidak mampu melindungi altar ini"  gumamnya

************

  Keesokan paginya, Roselia membuka matanya karena dia merasa pipinya disentuh oleh sesuatu. Perlahan dia membuka matanya, dia melihat dengan jelas seorang penjaga kota sedang duduk di hadapannya sambil menyentuh pipinya dengan sebatang kayu kecil yang diambilnya dari pesisir pantai.

Roselia bangkit dan menggaruk matanya perlahan. Dia membuka matanya lebar-lebar dan menyadari jika penjaga kota yang membangunkannya adalah Hardric.

  "Paman?" ucap Roselia. "Hoaaaaahm"
  "Selamat pagi, Roselia" sapa Hardric
  "Apakah ada penjaga restoran yang menyuruhmu untuk menangkapku?" tanya Roselia

Hardric hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Roselia hanya terus menatapnya dengan wajah setengah mengantuk.

  "Tidak. Aku hanya ingin memberi tahu saja, hari ini ada orang penting yang datang ke kota ini" ucap Hardric sambil tersenyum ramah
  "Orang... Penting?" Roselia memiringkan kepalanya
  "Benar! Tuan Puteri Reliana!"

Roselia mengedipkan matanya beberapa kali kemudian mengorek-ngorek telinganya. Dia menepuk-nepuk pipinya berkali-kali untuk memastikan dia tidak salah mendengar ucapan Hardric si penjaga kota tadi.

Dia menatap Hardric sekali lagi. Hardric hanya menganggukan kepalanya dengan semangat.

  "Tuan Puteri Reliana! Penerus tahta yang sah dari Kerajaan Middleland!" ucap Hardric
  "EEEEEHHHHH?!"

Roselia langsung menutup mulutnya sendiri karena menyadari teriakannya tadi menarik perhatian orang-orang di sekitar yang lewat.

  "T-t-tuan puteri.... RELIANA?! Reliana.... Yang itu?!" tanya Roselia
  "Benar! Orang yang selalu kau idolakan"

Kedua mata Roselia terbuka semakin lebar dan langsung berkaca-kaca. Dia tersenyum dengan bahagia dan mulai membayangkan seperti apa sosok seorang tuan puteri yang selalu diidolakannya itu.

  "Aaaaah, tuan puteri......" gumam Roselia. "Ksatria wanita pemberani, pahlawan dari Middleland Empire, seorang perempuan terkuat yang ada di dunia. Seorang pahlawan yang berdiri sendirian menghadapi invasi iblis pada saat umurnya masih 14 tahun. Kyaaaaaa! Aku senang sekali"

Pipinya langsung menjadi merah merona. Roselia mengelus-ngelus kedua pipinya dan mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan sambil membayangkan seperti apa sosok Reliana. Hardric hanya tersenyum melihat Roselia seperti itu.

  "Aku dengar beberapa orang dari distrik elit akan melakukan pesta penyambutan esok hari. Kau tahu apa artinya itu kan?" tanya Hardric
  "Hooooh, makanan?!" balas Rose melongo
  "Benar!" jawab Hardric. "Dengar ya Roselia, orang-orang di distrik elit itu, akan mencoba sebaik mungkin untuk menarik perhatian keluarga pewaris tahta yang sah. Kau bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk dan makan sepuasnya"

Mulutnya Roselia terbuka lebar. Tak disadarinya, air mulutnya sampai mengalir keluar.

  "Roselia? Air mulutmu keluar"
  "Ah?"

Roselia menggelengkan kepalanya. Dia membersihkan mulutnya dengan pakaiannya yang kusam dan berdebu.

  "Ngomong-ngomong paman, kenapa kau memberitahuku semua ini?" tanya Roselia dengan penasaran
  "Kebetulan saja aku ditugaskan untuk berpatrolli di sini hari ini dan kebetulan juga aku melihatmu"
  "Hmmm, Mah. Terimakasih paman!"

Roselia membungkukan badannya sedikit kemudian dia dengan penuh semangat mulai ngelantur tentang Reliana dan makanan. Hardric hanya tersenyum melihat Roselia sangat senang.

  "Aku ingin menolongmu nak. Tetapi gaji penjaga kota itu pas-pasan. Kuharap besok, aku bisa meringankan bebanmu. Aku ingin kau makan makanan yang layak dan diperlakukan sebagaimana mestinya. Kau hampir tidak pernah tersenyum dan menjalani hidup yang keras. Aku sudah mendengar banyak laporan jika kau selalu dipukul dan diserang oleh petualang, penjahat dan pemilik toko. Sungguh sebuah keajaiban kau belum menjadi pembunuh. Kau hanya terus menerima perlakuan kasar itu dan selalu mengalah. Kenapa anak sebaik dirinya harus menerima nasib seperti ini?" gumam Hardric dalam hati

Hardric menengadah ke langit yang sedikit biru.

  "Dewa, kenapa kau membiarkan anak sebaik dirinya menderita?" pikir Hardric
  "Nee, nee paman!" panggil Roselia

Panggilan dari Roselia membuyarkan Hardric dari lamunannya. Dia kembali melihat si rambut merah yang terlihat sanga bahagia di hadapannya. Roselia menatapnya dengan mata yang penuh dengan keceriaan.

  "Apakah aku... Boleh membawa makanan untuk Dewi Vydia?" tanya Roselia
  "Hm? Dewi siapa?" tanya Hardric
  "Dewi Vydia! Dia lah yang memiliki altar ini!"

Roselia mengelus-ngelus altar di mana mereka duduk dengan senyuman lebar. Hardric hanya terdiam sesaat. Dia tidak pernah mendengar nama Dewi itu seumur hidupnya tetapi keberadaan altar dengan pedang berkarat ini membuatnya berpikir 2 kali.

Dia berpikir mungkin Roselia salah memahami sebuah dongeng dengan legenda. Di kota Lakia, ada legenda tua tentang seorang perempuan yang sangat cantik berambut perak dengan gaun biru panjang dan mengenakan sepatu hak berwarna biru menghuni kota ini. Orang-orang asli kota Lakia menyebutnya dengan julukan Lady of the Lake.

Meskipun legenda itu sudah ada sejak awal berdirinya kota Lakia, Hardric tahu jika altar ini usianya jauh lebih tua dari kota Lakia sendiri yang berarti; altar ini sudah ada bahkan sebelum kota Lakia ada. Mungkin saja, Roselia membaca dongeng tentang seseorang bernama Vydia di suatu tempat dan salah memahami Lady of the Lake sebagai Vydia.

Hardric hanya menganggukan kepalanya.

  "Tentu saja. Bagaimanapun juga, memberikan persembahan pada Dewa dan Dewi yang kau sembah juga penting" jawab Hardric
  "Horeee! Terimakasih paman!!" balas Roselia sambil memeluk Hardric
  "Aku ingin mengatakan padanya kalau tidak ada satupun orang di dunia ini yang pernah mendengar nama Dewi Vydia" pikir Hardric. "Tetapi, jika aku memberi tahu hal itu, dia pasti akan sangat sedih"
  "Bertemu dengan Puteri Reliana kemudian mendapatkan makanan yang dimakan oleh para bangsawan.. Haaaaah aku sangat senaaang!" ucap Roselia
  "Yah, Roselia. Besok aku juga akan berjaga di distrik elit. Jadi kuharap kau jangan membuat masalah ya"

Roselia melepaskan pelukannya. Dengan senyuman bahagia dia menganggukan kepalanya.

  "Siap pak!" jawabnya
  "Dan itu berarti jangan berteriak seperti orang gila di tengah-tengah acara. Mengerti?"
  "Siap pak!!!" Roselia memberi hormat pada Hardric layaknya seorang prajurit

Hardric hanya membenahi cara Roselia memberi hormat sambil tersenyum kecil. Dia bangkit berdiri dan turun dari altar.

  "Aku harus segera kembali bertugas. Jadi anak yang baik ya Roselia"
  "Baik paman!" balas Roselia

Hardric berjalan pergi meninggalkan Roselia. Roselia berbalik menatap pedang berkarat di tengah-tengah altar. Dia merasa sangat senang.

  "Dewi Vydia, esok, aku akan mempersembahkan makanan yang layak padamu!" gumam Roselia. "Mohon berkatnya untuk hari ini Dewi!"

Roselia menepuk tangannya sekali, menunduk kemudian menepuk tangannya lagi. Dia bangkit berdiri dan berlari meninggalkan altar dengan penuh semangat.

**************
Bersambung

  Part berikutnya, Awal dari Segalanya!
  Mungkin saja hari ini kau akan mendapatkan duri, tetapi siapa tahu besoknya kau akan mendapatkan kelopak bunganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar