Rabu, 29 Maret 2017

Aku Tak Ingin Melindungi Dunia Ini Part-5

  Episode Sebelumnya!!  Erm.... Sebenarnya aku sendiri sedikit bingung apa yang harus kukatakan tentang episode sebelumnya kecuali jika kami menyadari jika ada seseorang anggota sekte Planare diantara warga Lakeia yang bertugas untuk mengawasi iblis yang mencemari danau.

Menghabisi iblis adalah pekerjaan yang mudah bagiku dan juga menjadi tanggung jawabku. Tetapi... Jika iblis itu dihabisi, maka mereka akan mengirim iblis lain lagi. Jadi Zein sepertinya sudah memiliki rencana di dalam pikirannya dan mungkin saja dia sudah bisa menebak siapa anggota sekte Planare yang bersembunyi.




**************
Aku Tak Ingin Melindungi Dunia Ini
Part-5
Pemurnian Danau dan Identitas Mata-Mata!

   Malam harinya pada hari festival kemakmuran, Zein sedang duduk di dalam penginapan sambil meminum segelas air hangat. Aone sudah tertidur pula di dalam kamar sementara Stellarin masih sibuk di luar mengikuti perayaan festival bersama-sama dengan sebagian besar orang.

Sesosok priestess berjalan masuk ke dalam penginapan. Dia melihat-lihat sekelilingnya. Zein melambaikan tangannya. Priestess itu tersenyum dan berjalan untuk duduk di kursi sebelah Zein.

  "Zein Ford?" ucapnya
  "Yep. Kita baru saja bertemu tadi dan kau sudah lupa? Apa kau membenturkan kepalamu di suatu tempat saat festival tadi?" balas Zein
  "Tidak juga"

Priestess ini adalah Lyana. Teman dari Reealna. Dia dan Zein baru saja bertemu pada saat festival kemakmuran. Lyana kehilangan kalungnya dan secara diam-diam mencoba mencarinya. Sebenarnya Zein juga tak begitu tertarik untuk mencari kalungnya tetapi Zein memiliki rencana tersendiri dan berhasil membujuk Lyana untuk membiarkan Zein membantunya.

Bagi Zein, mencari kalung yang hilang sangat mudah. Bisa dibilang, dia memiliki banyak pengalaman mencari barang-barang hilang sebelum dia bertemu dengan Aone.

Zein mengeluarkan sebuah kalung dari dalam saku celananya dan memberikannya pada Lyana. Lyana dengan sangat gembira langsung menerima kalung miliknya.

  "Ka-kalungku! Terimakasih Zein! Semoga Dewi Kehidupan memberkatimu" ucapnya sambil memandang kalungnya
  "Ya~ya~ya" balas Zein datar. "Ah, Lyna, aku sebenarnya punya beberapa pertanyaan"
  "Tentang Dewi Kehidupan?"
  "Bukan. Tentang Reealna. Dia sepertinya bukan dari sini"

Lyna hanya tersenyum. Dia memesan segelas teh.

  "Dari mana kau mengetahuinya?" tanya Lyna
  "Pertama, aku melihat botol bir yang diminumnya. Produk itu lebih terkenal oleh orang-orang di ibukota kerajaan daripada area-area seperti ini. Kedua, bau badannya berbeda dengan orang-orang di sini" jawab Zein
  "Apa kau ini sebenarnya anjing pelacak?"
  "Apa kau ingin kuhajar sekarang?" balas Zein

Lyna hanya tersenyum. Teh pesanannya tiba dan dihidangkan di hadapannya. Dia meneguk sedikit sambil memperhatikan Zein yang menatapnya dengan tatapan penasaran tetapi datar.

  "Reealna... Memang dari ibukota. Dia dikirim oleh Archbishop untuk membantu kami. Tahun ini, adalah tahun terakhirnya melayani di sini" ucap Lyna
  "Aaah... Jadi dia dikirim untuk membantu kalian menjadi pemabuk?"
  "Bu-bukan!" Lyna menggelengkan kepalanya. "Seperti yang kau ketahui, semua priest dan priestess di kuil Lakeia masih tergolong pendatang baru. Jadi pengetahuan kami masih sangat minim..."

Wajah Lyna terlihat sangat merah dan dia bahkan menundukan kepalanya. Dia merasa sangat malu mengakui keberadaan dari para priest dan priestes di kuil Lakeia. Zein hanya diam. Dia menggaruk kepalanya sesaat sambil melihat ke langit-langit.

  "Eh, kenapa kau bertanya tentangnya? Apa kau tertarik dengannya?" tanya Lyna
  "Tidak... Sama sekali tidak. Aku tak suka perempuan yang nafasnya seperti lubang toilet" jawab Zein. "Aku lebih tertarik dengan perempuan pemalu tetapi pekerja keras sampai-sampai dia sendiri kehilangan kalungnya"

Lyna tersenyum sambil memalingkan wajahnya ke arah lain karena merasa malu.

  "A-aku harus segera kembali ke festival. Masih banyak hal yang belum kukerjakan. Aku tak mau mereka marah padaku" ucapnya sambil berdiri. "Terimakasih sekali lagi Zein"

Zein hanya melambaikan tangan sebagai balasan sambil melihat Lyna berjalan keluar dengan wajah merah merona meninggalkan penginapan. Sesaat kemudian, Aone berjalan turun dari lantai 2 sambil mengucak-ngucak matanya. Dia menghampiri Zein yang masih meminum air panas.

Zein menatap Aone yang menguap. Sambil meminum air panas, Zein menepuk-nepuk kepala Aone beberapa kali seolah-olah Aone adalah anaknya sendiri.

  "Zein... Aku lapar... Apakah kita masih punya uang untuk membeli makanan?" tanya Aone
  "Kau baru saja makan 5 bungkus roti besar sebelum tidur.... Sebenarnya kau ini manusia ataukah apa?" keluh Zein. "Kita tidak punya banyak uang, jadi malam ini akan kuminta Stellarin untuk memetik jamur yang tumbuh di sumur belakang penginapan"
  "Itu gila! Apa yang terjadi jika Stellarin terjatuh ke dalam sumur dan tak bisa keluar?" tanya Aone yang tahu persis Stellarin itu ceroboh
  "Tenang saja, dia akan membelah tanah menjadi 2 dan merangkak keluar"

Aone menggelengkan kepalanya karena dia menyadari dia tidak bisa beradu argumen maupun beradu otot dengan Zein ataupun Stellarin; keduanya sama-sama tidak memiliki akal sehat. Aone mengendus-ngendus baju yang dikenakan Zein dan dia menyadari ada aroma aneh pada baju Zein.

Aone tersenyum jahil dan berharap dia bisa membuat Zein merasa terganggu sedikit.

  "Heheheee, jadi sepertinya kau suka dengan seorang perempuan ya?" tanya Aone
  "Hmn?"
  "Aku mencium bau parfum perempuan menempel di bajumu"
  "Ah, pasti parfumnya Lyna yang tertempel. Dia itu Priestess di kuil Lakeia. Rekan kerjanya Reealna" jawab Zein
  "Aaah jadi kau mengincar rekan kerjanya Reealna" balas Aone
  "Tidak... Aku berencana untuk menyelidiki Reealna"

Aone hanya menaikan alis matanya. Dia memanjat kursi disamping Zein karena tubuhnya sangat pendek atau kursinya saja yang terlalu tinggi. Dia memfokuskan pikirannya pada Zein karena dia yakin ketika Zein membuat rencana, dia akan melakukan hal yang sangat gila atau tidak bisa diterima oleh norma sosial.

Zein sendiri sepertinya tidak begitu peduli apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Dia tidak memiliki kehormatan atau uang atau status sosial. Tak heran jika rencananya terkadang memang patut dipertanda tanyakan.

  "Begini, apa kau ingat ketika kita berkunjung ke kuil?" tanya Zein. "Ketika aku melihat para Priestess di sana aku menyadari betapa cantiknya mereka"
  "Eh?" Aone kebingungan. "Lalu apa hubungannya dengan menyelidiki Reealna?"
  "Reealna memiliki bau badan seperti om-om yang mabuk di dalam klub kabaret sementara para Priestess yang lain baunya sangat wangi"
  "Zein.... Aku tidak mengerti kau berbicara apa"
  "Yah, aku yakin dia pasti menyembunyikan sesuatu di kamarnya sampai-sampai dia memiliki bau yang jauh berbeda"

Aone menggelengkan kepalanya karena kurang memahami apa hubungan antara bau badan dengan menyelidiki Reealna. Lagipula, menyelidiki orang hanya karena bau badan.... Itu adalah benar-benar ide yang aneh.

Tetapi setidaknya Aone memahami inti dari rencana Zein; menyembunyikan sesuatu di kamarnya. Itu saja sudah menggambarkan secara garis besar apa yang akan dilakukan oleh Zein.

Priest dan Priestess, tidak masalah siapa yang mereka puja atau aliran apa yang mereka anut, memiliki status sosial yang lumayan tinggi dan dihormati oleh masyarakat karena mereka dianggap memiliki semacam "koneksi" dengan Dewa atau Dewi terutama bagi yang Dewa atau Dewi yang mereka sembah.

Jika Zein ketahuan memasuki kamar pribadi Priestess tanpa izin, itu akan menyebabkan masalah yang sangat besar baik bagi Zein maupun Reealna.

  "Aku sepertinya memahami garis besar rencanamu Zein" komentar Aone. "Tapi bagaimana kau akan melakukannya? Memasuki kamar pribadi dari Priestess di kuil? Kau bukan hanya harus melakukannya secara diam-diam tetapi juga harus memiliki kunci untuk masuk"

Zein hanya tersenyum. Dari balik lengan bajunya, dia menunjukan kunci kuil yang biasa dipegang oleh Priest dan Priestess. Aone langsung terkejut bagaimana caranya Zein bisa mendapatkan kunci tersebut.

  "Hehe, aku meminta Stellarin untuk membuat tiruan kuncinya" balas Zein. "Saat aku berbicara dengan rekan kerjanya Reealna tadi, aku menukarkan kunci palsu dengan kunci aslinya"

Aone terdiam. Dia baru tau kalau Zein ternyata memiliki tangan yang lincah dan sifat licik seperti itu. Stellarin sepertinya juga tidak tau jika dia membuat kunci tiruan dan hanya sekedar mengikuti perkataan Zein tanpa berpikir seperti biasanya.

Aone membanting wajahnya di meja setelah menyadari semua hal itu.

  "Lalu kenapa kau harus susah payah menukar kunci palsu dengan asli? Kenapa tidak langsung masuk dengan yang tiruan saja?" keluh Aone
  "Kau bodoh? Stellarin memang pintar membuat barang yang mirip dengan aslinya tetapi kunci itu sama sekali tak akan bekerja. Aku menukarkannya supaya jangan ada yang curiga jika ada kunci yang hilang. Tenang saja aku akan mengembalikannya. Aku hanya meminjamnya tanpa sepengetahuan pemiliknya" jawab Zein
  "Itu sama saja dengan mencuri" keluh Aone

Zein kembali menyembunyikan kunci tersebut dan melihat ke arah dinding. Dia menunggu sampai festival mencapai puncaknya kemudian dia akan bergerak selagi semua orang sedang terpana dengan festival di alun-alun kota.

Aone hanya berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berharap Zein tidak menyebabkan masalah besar. Tindakan yang akan dilakukannya itu benar-benar gila dan dianggap tidak bermoral.

**********

  Selagi semua orang teralihkan perhatiannya dengan festival, Zein menggunakan gelapnya malam hari untuk menyelinap ke dalam kuil yang benar-benar kosong. Pengalamannya bertahun-tahun mengembara terbukti lebih dari cukup untuk bisa masuk dan membuka tiap gembok tanpa banyak suara dan tanpa memakan banyak waktu.

Tiap Priest dan Priestess memiliki satu kamar dan selalu ada nama mereka terpampang di depan pintu. Berkat hal itu, Zein bisa menemukan kamar Reealna dengan mudah dan masuk ke dalam.

  "Blegh" Zein menutup hidungnya begitu dia masuk ke dalam kamar Reealna

Reealna... Kamarnya sangat berantakan dan memiliki bau seperti bir yang sangat tajam. Tidak ada satupun orang yang akan menduga jika kamar seorang perempuan akan berantakan seperti ini.

Kasur tempat tidurnya berantakan. Bantal kepala dan bantal guling berserakan di tanah. Banyak kertas berceceran di sana-sini. Buku-buku ajaran Dewi Kehidupan juga berserakan di lantai. Satu-satunya hal yang rapi hanyalah jejeran kotak minuman keras yang ada di sudut ruangan.

Zein memungut sebuah buku diary yang ada di atas kasur dan mulai membacanya. Sesaat setelah membacanya, Zein langsung terdiam sesaat.

  "Reealna... Kau..." gumam Zein. "Aku harus memberi tahu Aone dan Stellarin!"

Zein berlari keluar dari dalam kamar, tak lupa dia mengunci pintu kamar lagi sehingga mengurangi kecurigaan kemudian berlari meninggalkan kuil dengan terburu-buru.

Hanya dalam beberapa menit saja, Zein tiba kembali di desa Lakeia. Semua orang sedang sibuk memperhatikan ceramah dari para Priest dan Priestess di atas panggung. Zein memperhatikan sekelilingnya dengan teliti.

  "Sudah kuduga.... Ternyata benar" gumamnya
  "Oh Zein!" sapa Stellarin dari belakangnya
  "Waktu yang tepat!" sela Zein sebelum Stellarin bisa berbicara lanjut
  "Ya aku tahu! Ini, aku membelikanmu makanan!"

Stellarin langsung memberikan Zein sebuah kotak makanan kecil. Meskipun malu, Zein menerimanya.

  "Ja-jangan pikir yang aneh-aneh ya! Kalau kau sakit maka kau tak akan pernah bisa membayar hutangmu! Oleh karena itu, aku akan memperhatikan pola makanmu!" ucap Stellarin

Saat Zein membuka kotak tersebut, kotak tersebut kosong; tidak ada isinya. Zein hanya menjeling pada Stellarin dan menyadari jika mulut Stellarin sedikit berlumuran dengan bumbu makanan.

  "Oi..."
  "A-apa? J-jangan menatapku seperti itu!" balas Stellarin
  "Lupakan! Kemarilah!"

Zein langsung menarik Stellarin keluar dari kerumunan keramaian dan berlari kembali ke penginapan. Aone yang sedang meminum segelas susu terkejut dan melihat ke arah Zein.

  "Zein? Kakak Stellarin?" ucap Aone sambil membersihkan sisa minuman yang menempel di dekat mulutnya
  "Kemari! Cepat!" Zein menarik tangan Aone

*********

  Zein berlari membawa Aone dan Stellarin kembali ke danau yang tercemar. Anehnya malam, ini sama sekali tidak ada monster. Aone dan Stellarin masih bingung tetapi mereka memilih untuk tetap diam.

Begitu mereka sampai ke tepi danau, mereka melihat sesosok Priestess sedang berdiri di tepi danau. Sosok itu adalah Reealna.

  "Reealna?" gumam Stellarin
  "Sssh!" Zein menutup mulut Stellarin

Reealna menebarkan sesuatu ke arah danau dan mulutnya mulai komat-kamit mengucapkan sebuah mantra. Beberapa menit berlalu, tidak ada apapun yang terjadi. Suasana menjadi hening sesaat. Stellarin dan Aone menatapnya dengan sedikit rasa penasaran.

Reealna kemudian duduk menundukan kepalanya. Perlahan, air mata mulai mengalir keluar dari pipinya dan menetes ke tanah.

  "Kakak.... Hiks.... Aku.... Aku tidak pantas menjadi Priestess..." gumam Reealna. "Semua orang mengandalkanku... Tetapi aku telah gagal... Aku tidak bisa.... Aku tidak bisa memurnikan danau ini..."

Aone menarik napas dan mencoba berbisik tetapi Zein dengan cepat menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala sebagai tanda jika mereka harus diam sedikit lebih lama lagi.

Tiba-tiba saja tekanan udara terasa berubah. Air danau menjadi hitam pekat. Buih-buih aneh mulai timbul dari tengah-tengah danau dan perlahan sesuatu keluar dari dalam air. Saat Aone melihat sosok yang keluar dari danau, Aone langsung mengenali sosok tersebut.

Iblis Lamia. Sesosok iblis berwujud setengah ular dan setengah perempuan. Reealna terkejut dengan kehadiran iblis itu. Spontan Reealna bangkit berdiri dan memegang erat-erat mace yang dibawanya.

  "Brengsek! Jadi kau rupanya bajingan yang bertanggung jawab atas menderitanya orang-orang di sini!" bentak Reealna

Iblis Laima hanya tersenyum. Dia perlahan merayap keluar dari tepi danau menuju Reealna yang sama sekali terlihat tidak gentar.

  "Wah~wah... Priestess Reealna. Aku sudah mendengar banyak tentangmu. Hiissssssssssss" ucapnya sambil mendesis. "Aku tahu penderitaanmu.... Kau yang selalu menangis tiap malam setelah gagal memurnikan danau..."

Reealna melangkah mundur selangkah untuk sambil memperhatikan gerak-gerik iblis yang sedikit lebih tinggi darinya dengan rasa gugup.

  "Aku punya tawaran untukmu.... Jadilah pelayanku, dan aku akan meninggalkan danau ini. Sebagai orang yang telah memurnikan danau, kau akan diangkat sebagai pahlawan dan mereka yang di pusat akan memujamu. Sebuah pengakuan dari hati orang-orang... Itu yang kau inginkan bukan?"

Reealna menundukan kepalanya. Iblis yang ada di hadapannya benar-benar mengetahui isi hati dan keinginan dari Reealna. Aone geram melihat pengikutnya coba dihasut oleh iblis tetapi pada saat bersamaan, dia tak boleh ikut campur.

Meskipun Aone adalah jelmaan Dewi Kehidupan Airyn, Aone harus sepenuhnya membiarkan manusia yang memilih untuk tetap menyembah para Dewa dan Dewi atau justru berbalik dan menyembah para iblis.

Untuk pertama kalinya, Aone mulai bergumam dan mengucapkan doa-doa semoga Reealna tidak jatuh dalam hasutan iblis. Zein hanya diam memperhatikan situasi dengan tenang.

  "Oke, Aone, aku dan Stellarin akan mengalihkan perhatian iblis itu, saat dia sibuk, kau musnahkan dia dengan mantramu dan bersihkan danau ini" ucap Zein
  "Tapi bagaimana dengan agen sekte Planare?" tanya Aone
  "Serahkan saja padaku. Jika dugaanku benar, maka aku tau pelakunya siapa" jawab Zein. "Stellarin, bersiaplah! .... Stellarin?"

Saat Zein melihat ke sampingnya, Stellarin sudah tidak ada. Dia melihat kembali ke danau dan  menyadari Stellarin baru saja mengencangkan celananya dan berjalan dengan santai kembali ke tempat persembunyian mereka tanpa disadari oleh Lamia maupun Reealna.

  "Uaaah, legaaa" ucap Stellarin dengan wajah gembira
  "Oi... Apa yang baru kau lakukan di danau tadi?" tanya Zein
  "Oh? Be'ol"

BLETAK! Zein langsung memukul kepala Stellarin dari belakang tetapi sepertinya malah tangan Zein yang kesakitan. Aone langsung menepuk kepalanya dan menggelengkan kepalanya karena putus asa. Stellarin sama sekali tak merasa sakit dan menatap Zein serta Aone kebingungan tanpa mengetahui kenapa mereka berdua telihat stress tiba-tiba.

  "Bodoh! Apa yang kau lakukan?! Lupakan soal pemurnian danau! Air danau tersebut sekarang sudah jadi semakin terkontaminasi!!" omel Zein
  "Bukannya air danau tersebut sudah terkontaminasi?" balas Stellarin
  "Iya memang benar tetapi jika kau membuang kotoranmu di dalamnya, kita malah tidak bisa benar-benar menjernihkan air danau tersebut!!!" balas Zein memegang kepalanya sendiri dan hampir berteriak karena stress

Lamia yang masih tak menyadari apa yang terjadi berjalan kembali ke tepi danau. Dia menjulurkan tangannya ke depan. Sebuah energi gelap berkumpul dan membentuk semacam cawan. Saat iblis itu menimba air dari danau dan mengangkat cawan tersebut, dia melihat kotoran milik Stellarin.

Suasana menjadi hening sesaat. Tak lama kemudian, iblis tersebut marah dan membanting pecah cawan tersebut ke tanah.  PRANG!!

  "TERKUTUKLAH KALIAN MANUSIA!!!! CUKUP SUDAH! AKAN KUHABISI SEISI DESA INI!!!"

Lamia membantingkan tongkatnya ke tanah sekuat mungkin. Dalam seketika, banyak sekali iblis merangkak keluar dari dalam tanah.

  "BANGKITLAH WAHAI ANAK-ANAKKU! MALAM INI JUGA KITA AKAN MINUM DARAH DAN MAKAN DAGING!!!" ucap Lamia

Reealna menggelengkan kepalanya. Dia mengumpulkan keberanian dan mencoba menyerang iblis tersebut tetapi apa yang bisa dilakukannya? Iblis tersebut hanya mengayunkan ekor ularnya; menghantam Reealna dengan sangat kuat.

Hanya dalam 1 ayunan, Reealna terpental dan kepalanya menghantam sebuah pohon dengan sangat keras. Dia langsung kehilangan kesadaran seketika itu juga.

  "Perlakukan dia sesuka hati kalian! Yang lainnya, kita ke desa! SEKARANG!!!"

Semua pasukan iblis dibawah komando Laima mulai berbaris menuju desa. Laima yang marah memimpin barisan tersebut.

  "Tamat! Tamatlah sudah rencanaku!" gerutu Zein
  "Zein, apakah menahan kotoran di perut itu bermanfaat?" tanya Stellarin
  "BODOH!!! Ini bukan waktunya untuk bertanya seperti itu!" balas Zein emosi
  "Tepat sekali! Karena tidak baik, makanya aku membuang kotoran tadi di danau!" balas Stellarin yang masih tak menangkap maksud dari Zein
  "Zein! Desanya! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Aone

Zein membuang ludah dan melihat sejumlah iblis mendekati Reealna yang masih tak sadarkan diri. Antara Reealna dan desa... Mana yang harus dia selamatkan terlebih dahulu?

  "Aone! Lakukan apa yang kau bisa, kemudian kembalilah ke desa! Aku dan Stellarin akan mengulur waktu!" perintah Zein
  "Baik!" balas Aone
  "Kemari kau wanita setengah bugil!" ucap Zein sambil menarik Stellarin

**************

  Zein dan Stellarin berlari secepat mungkin ke desa. Mereka membiarkan Aone berurusan dengan sedikit iblis yang mendekati Reealna. Zein sendiri yakin dengan kemampuan Aone; meskipun dia adalah anak kecil, dia adalah jelmaan Dewi Kehidupan. Lagipula iblis yang mendekati Reealna tadi adalah iblis yang kelihatannya hanya mencoba merasuki pikiran orang, Aone sudah pasti bisa mengatasi hal itu tanpa bantuan.

Saat Zein dan Stellarin tiba di desa; suasanya sudah benar-benar kacau. Rumah-rumah telah terbakar dan penduduk desa mati-matian mencoba melawan iblis Lamia beserta pasukannya. Lamia jelas-jelas terlihat sangat marah.

  "Stellarin! Ayo hajar mereka!" ajak Zein
  "Heheh! AKHIRNYA!!!"

Stellarin mengangkat Desolator yang selalu ada di punggungnya. KLANG! Suara Desolator yang menghantam tanah menarik perhatian sejumlah gerombolan iblis.

  "YIIHAAAA!!!"

Stellarin langsung berlari tanpa berpikir panjang menerobos barisan pertama pasukan iblis dan mulai mengayunkan Desolator dengan sangat gila. Zein hanya diam melihat Stellarin yang bertarung dengan ganas.

Dibandingkan dengan para iblis yang dibantainya, Stellarin justru jauh lebih bengis, brutal dan menyeramkan. Dia tersenyum lebar dan tertawa seperti orang gila dalam pertarungan. Zein melihat sendiri bagaimana Stellarin mengayunkan Desolator secara vertikal pada sesosok iblis; membelahnya menjadi 2 bagian kemudian dia membalikan badannya dan menikam 1 iblis di belakangnya dengan Desolator dan menendang kepala iblis tersebut sampai terlepas dari badannya. Kegilaannya tak berhenti di situ, dia mengigit telinga salah satu iblis hingga putus dan membelah iblis menjadi 2 bagian hanya dengan tangan kosong.

  "Kupikir aku akan segera bekerja keras supaya bisa membayar hutangnya..." gumam Zein gemetaran

Sebelum Zein bisa melakukan sesuatu, Stellarin sudah menghabisi semua pasukan iblis tanpa bantuan siapapun. Badannya memang dipenuhi dengan darah dan luka tetapi lain dari itu, dia terlihat sangat bahagia dan menikmati pertarungan tadi.

Lamia bahkan harus mengakui dirinya merasa terkesan ada manusia yang gila seperti Stellarin nekat melawan pasukannya sendirian dan berhasil menang.

  "Hooo... Ternyata ada manusia yang kuat seperti itu..." ucap Lamia. "Hey manusia!"
  "Hm?" Stellarin melihat ke Lamia
  "Dengan kekuatan seperti itu, jadilah pelayanku! Aku bisa mem-"
  "ZEKKKEEEN!!!!"

  Stellarin mengayunkan Desolator ke arah Lamia. Dengan cepat iblis setengah ular itu mundur sehingga tebasan Stellarin tak mengenainya namun kabut tipis mulai keluar menyelimuti Lamia dan percikan api kecil mulai menyala diantara kabut tipis tersebut.

BLEDAR!!! Sebuah ledakan kecil menyelimuti Lamia. Zein awalnya tersenyum lebar karena merasa masalah selesai namun senyuman tersebut hilang ketika dia melihat Lamia tidak terluka sama sekali. Bahkan tidak ada satupun bekas luka.

Lamia hanya tertawa terbahak-bahak.

  "Hebat.... HEBAT!!! HAHAHAHAH!" Lamia membuang ludah di tanah. "Tidak kusangka ada manusia yang b-"
  "ZEKKKEEEN!!!!!"

BLEDAR!!! Ledakan kecil kembali menyelimuti Lamia. Lamia mengayunkan tongkatnya ke arah Stellarin tetapi siapa sangka jika Stellarin juga lumayan lincah dan gesit. Dia bisa menghindar ke belakang dengan cepat; membuat sedikit jarak antara mereka.

  "Hoi! Berikan aku kesempatan untuk berbicara!" protes Lamia sedikit kesal
  "Cih, Zein! Pegang ekornya! Aku akan melakukannya lagi!" teriak Stellarin
  "Oi kalau kau melakukan itu, aku bisa mati dalam ledakan. Lagipula seranganmu itu tak efektif" protes Zein
  "Hah! Kalian pikir kalian bisa menang dengan serangan seperti itu?" tantang Lamia dengan sedikit sombong

Stellarin menggaruk kepalanya sesaat untuk berpikir. Tak lama kemudian dia tersenyum. Dia menancapkan Desolator di tanah. Dia menarik nafas yang panjang.

  "KEMARILAH KAU L*NTE BERSISIK!" teriak Stellarin. "APAKAH AYAHMU MEMASUKAN ITUNYA KE DALAM MULUT ULAR BETINA SAMPAI KAU LAH-"
  "Hoi! Berhenti!" Zein menutup mulut Stellarin
  "Mphff pasdlgjfff laskff!!!"
  "Berisik! Apa yang kau lakukan? Kalau kau begitu terus kita bisa bermasalah dengan lembaga sensor!" tegur Zein

Stellarin memutar tangan Zein. Karena terasa sangat sakit, Zein spontan tidak jadi menutup mulut Stellarin.

  "Dengar Zein, senjata terbaik dari seorang prajurit, bukanlah pedang atau perisainya; melainkan mulutnya! Jika kau tak bisa melukai lawanmu, maka lemparkanlah cacian dan makian padanya!" jawab Stellarin dengan bangga. "Itu adalah peraturan dalam perang!"
  "Peraturan dari mana itu!? Jangan berbicara yang aneh-aneh!" protes Zein

Zein tiba-tiba menutup hidungnya karena mencium bau busuk yang sangat menusuk. Lamia juga tampaknya juga mencium aroma menyengat tersebut sampai dia harus menutup hidungnya juga. Stellarin sendiri tampaknya tak terpengaruhi dengan bau menyengat tersebut.

Zein tahu bau menyengat tersebut berasal dari Stellarin dan memerlukan beberapa detik sampai Zein menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

  "Hey Stellarin, kau tidak melakukan itu lagi kan?" tanya Zein
  "Tidak, aku hanya buang angin saja. Jika aku dekat danau, aku pasti akan melakukannya lagi" jawab Stellarin dengan sangat  yakin
  "Jangan coba-coba.... Jangan kau berani untuk coba!" ancam Zein sedikit kesal
  "Bau ini... Apa kau yang membuang kotoran di danau?" tanya Lamia
  "Zein, tahan ekornya! Aku ingin pergi ke danau dulu"

Tanpa menunggu respon dari Zein, Stellarin memikul Desolator dan berjalan pergi. Baru 2 langkah, Zein langsung menarik poni rambut belakangnya dengan sangat kuat.

  "OI! Jangan lakukan itu lagi! Kau mau danau itu menjadi terkontaminasi untuk selama-lamanya?!" tanya Zein
  "Tapi Zein, apakah menahan kotoran itu bagus?" tanya Stellarin
  "Tentu saja tidak bagus!"
  "Itulah kenapa, aku harus pergi sekarang!! Aku tidak tahan lagiii!!"
  "TOLOL!! Jangan kau coba-coba membuangnya di danau!" protes Zein
  "Kalau begitu bisakah aku melakukannya di sini saja?" tanya Stellarin
  "JANGAN BERCANDA!!!! APA KAU GILA?!"

Zein menggaruk kepalanya untuk sesaat lalu membenturkan kepalanya beberapa kali di tanah karena tak tahan dengan tingkah Stellarin. Sementara Stellarin terlihat kebingungan
.

  Sebuah dorongan udara yang sangat kuat dapat terasa. Petir mulai memenuhi langit. Hujan deras secara tiba-tiba mulai turun dari langit. Lamia terlihat benar-benar sangat marah.

  "Dengarkan aku dasar badut-badut sirkus!" teriaknya. "Aku adalah Lamia! Iblis yang berkuasa atas danau Lakeia! Kau berani mengotori danauku?! KAU AKAN MEMBAYARNYA DENGAN NYAWAMU!"
  "Aaah, sepertinya keluar sedikit" ucap Stellarin sambil memegang belakang celananya
  "SERIUS??!!" tanya Zein
  "Aaaaahhhhh, bagaimana ini Zeeiiin?"
  "BERISIK! MENJAUHLAH DARIKU!"

Merasa kesal karena Zein dan Stellarin sama sekali tak memperhatikan Lamia. Iblis tersebut memukulkan tongkatnya ke tanah. Gempa yang sangat kuat mulai terasa. Air dari tanah mulai merembes keluar seperti air mancur di segala tempat; di rumah penduduk, di taman, dan bahkan kuilpun terkena dampaknya.

Orang-orang yang masih selamat mulai panik dan berlarian mencoba menyelamatkan sebanyak mungkin harta benda mereka sementara Zein dan Stellarin masih berhadapan dengan Lamia.

  "Sekarang.... Pilihlah! Antara keselamatan orang-orang ini atau nyawa kalian berdua. Kesabaranku mulai habis...." ucap Lamia
  "Cih, memaksa orang untuk memilih ya?" gumam Zein

Zein pun mulai mengambil kuda-kuda untuk bersiap menyerang Lamia. Untuk orang yang belum pernah berhadapan dengan iblis secara langsung, Zein tergolong sangat tenang. Tatapannya terfokus memperhatikan setiap gerak-gerik dari Lamia. Pelahan, tangan kanan Zein sudah berada pada ganggang pedangnya.

  "Hiissss....." desis Lamia. "Kau memilih untuk bertarung bahkan setelah kau tahu jika serangan biasa tak bisa melukaiku?"
  "Heheheh, maaf saja ular" balas Zein sambil tersenyum licik. "Kami berdua ini keras kepala"

Hanya dalam sekejap mata, Lamia sudah berada tepat di hadapan mereka. Dengan cepat iblis ular besar itu mencoba menancapkan ujung tombaknya ke kepala Zein, tetapi Zein dengan gesit menunduk dan menebas bagian badan bawah dari badan Lamia.

Lamia terkejut bukan hanya karena Zein bisa mengimbangi kecepatannya, tetapi karena serangan Zein berhasil membuat Lamia terluka. Darah segar hitam pekat mengalir keluar dari bekas luka tersebut. Lamia mengulurkan tangan kirinya ke depan dengan cepat; gelombang air yang sangat besar dan kuat muncul dari bawah tanah dan mendorong Stellarin dan Zein menjauh.

Lamia melihat ke bekas lukanya. Dia merasa seperti sedang terbakar.

  "Kau.... Bagaimana bisa?" Lamia sangat kaget
  "Entahlah, yang jelas sekarang pilihlah; antara keselamatan orang-orang ini, atau keselamatan dirimu" jawab Zein dengan tenang
  "Wooooh! Kerja bagus Zein! Terus buat dia sibuk sampai aku selesai ya!"

Zein melirik ke arah sumber teriakan Stellarin, perempuan itu sudah berjalan dengan santai ke arah danau. Zein dengan cepat berlari dan menarik rambut Stellarin yang baru saja beberapa langkah darinya.

Lamia menutup bekas luka pada tubuhnya dengan tangannya. Dalam waktu singkat, luka goresan tersebut tertutup tetapi dia masih merasa seperti terbakar hidup-hidup.

  "Geh, sarung senjatamu mungkin bisa melukaiku, tetapi kau tidak akan bisa membunuhku manusia" ucap Lamia
  "Hah?" Zein mengangkat alisnya. "Siapa bilang aku akan membunuhmu? Aku hanya berencana membuatmu tersiksa sedikit"
  "Apa?"
  "Kau mungkin bisa sembuh dari luka goresan, tetapi kau tak bisa sepenuhnya pulih dari rasa seperti sedang terbakar hidup-hidup kan?"

Lamia memegang erat tombak pada tangannya. Dia mulai mengeluarkan keringat dingin karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan manusia yang mampu membaca persis pikirannya.

Tidak... Mungkin ini adalah pertama kalinya seorang manusia bisa membaca pikiran dari iblis dalam sejarah umat manusia maupun iblis.

  Zein hanya tersenyum licik. Dia sendiri tahu dia tak akan bisa membunuh iblis itu sepenuhnya dan menyiksa iblis sebenarnya hanyalah omong kosong belaka yang dilontarkannya untuk mengulur waktu sampai Aone kembali.

Zein sadar benar, hanya Aone yang cukup kuat untuk benar-benar memusnahkan iblis kuat untuk selama-lamanya.

  "Stellarin! Bersiaplah untuk menyerang!" perintah Zein
  "Tch, kau bahkan tak mau membiarkanku buang air" protesnya
  "Bayangkan saja; kau akan dicatat sebagai orang yang berhasil menang lawan iblis" balas Zein

Mendengar ucapan Zein barusan, Stellarin dengan semangat berapi-api mengayunkan Desolator ke depannya.

  "OKEEE!!!! MAJULAH KAU IBLIS!!!" teriaknya dengan semangat
  "Kau benar-benar mudah untuk dibujuk...." gumam Zein dalam hati

Zein dan Stellarin berlari menyerang Lamia. Lamia mempersiapkan dirinya untuk serangan yang akan datang dari kombinasi duo idiot yang ada di depannya.

Tepat pada saat bersamaan, Reealna masuk ke dalam area dan melihat mereka sedang bertarung. Dia menutup kedua matanya, mengayunkan mace di tangan kanannya perlahan ke belakang dan menjulurkan tangan kirinya ke depan. Dia membungkukan badannya sedikit.

  "Mengalirlah...." gumam Reealna. "Lumina Cresencia!"

Reealna memutar mace miliknya 2 kali dan mengayunkannya secara horizontal ke depan. Sebuah air membentuk tombak dengan cepat dan melesat ke arah Lamia. Tombak tersebut menancap pada tangan kiri Lamia dan mendorong iblis tersebut hingga menabrak menembus sebuah rumah.

Dengan cepat Lamia kembali bangkit berdiri. Zein terkejut melihat mantra Reealna yang tadi rupanya benar-benar berhasil melukai Lamia karena tangan kirinya sekarang putus. Zein menoleh pada Reealna dan melihat Aone berdiri di samping Reealna. Dia mengacungkan jempol pada Reealna dan Aone sebagai pujian.


  "K-kurang ajar..." gerutu Lamia menatap tangan kirinya yang putus
  "Lamia, aku telah berpikir, kenapa kau itu tinggal di danau Lakeia. Jawabannya sederhana; kau tahu kau tidak bisa dilukai oleh serangan biasa. Mantra suci yang dimiliki oleh semua priest dan priestess di kuil juga tidak akan mempan karena kau sadar kekuatan mereka tidak akan cukup kuat untuk menandingimu" ucap Reealna

Reealna memegang erat-erat mace pada tangan kanannya dan mengacungkan ujungnya pada Lamia.

  "Tetapi alasan sebenarnya kau tinggal adalah karena kau tahu persis tidak ada satupun orang yang menguasai sihir air dan api yang merupakan kelemahanmu. Benar kan?" tanya Reealna
  "Cih" Lamia terlihat kesal
  "Zein! Stellarin! Belikan aku sedikit waktu. Aku akan membawa penghakiman Dewi Kehidupan pada iblis itu" perintah Reealna dengan wajah serius
  "Heh, tepat pada waktunya!" balas Zein. "Stellarin! Ayo kita tendang pantat iblis itu!"
  "Aku benar-benar tak punya kesempatan untuk melakukan itu ya?" gumam Stellarin

  Reealna kembali menutup matanya. Dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan mulai mengucapkan mantra.

  "Grrr.... Tidak akan kubiarkan.... Kau akan tahu kenapa aku dijuluki salah satu komandan pasukan iblis..." geram Lamia

Lamia dengan cepat bergerak menuju Reealna yang masih mengucapkan mantra tetapi Zein dengan lincah mengayunkan sabuk senjatanya ke arah kepala Lamia. Serangan tersebut dengan mudah dapat dihindari oleh Lamia dengan cara menunduk sambil terus merayap. Zein tersenyum ketika Lamia menghindari serangannya, dengan cepat pria ini menarik rambut Lamia kemudian mencekik leher iblis itu.

  "Stellarin! SEKARANG!" teriak Zein

Saat Lamia mencoba menggunakan ekornya untuk melilit Zein, Stellarin yang kuat menarik dan memegang ekor Lamia dan bahkan dia mencoba membakar ekor lamia dengan api unggun yang entah sejak kapan dipersiapkannya.

  "Hoi! Apa yang kau lakukan bodoh?!" tegur Zein
  "Yah, walaupun dia ini iblis; dia tetap ular kan? Aku belum pernah memakan ular sebelumnya" jawab Stellarin dengan polosnya

Lamia mencoba melepaskan ekornya dari genggaman kedua tangan Stellarin tetapi Stellarin terlalu kuat sehingga Lamia tak bisa berkutik sama sekali. Meskipun Zein mencekiknya dan Stellarin menahan ekornya, tangan kanannya masih bisa bergerak.

Lamia melemparkan tombak itu ke arah Reealna. Melihat tombak yang melesat ke arah Reealna. Aone berlari maju ke depan Reealna. Dia mengangkat kedua tangannya membentuk X ke atas kemudian mengayunkan turun kedua tangannya. Sebuah perisai suci terbentuk dengan cepat di hadapannya.

Saat tombak tersebut menghantam perisai buatan Aone, tombak tersebut terpental dan hangus terbakar. Lamia terkejut setengah mati melihat tombaknya terbakar tak tersisa debu.

  "Perisai suci?!" gumam Lamia. "T-tidak mungkin... Bagaimana bisa tombak itu bisa terbakar oleh mantra rendahan... Tombak itu dibuat oleh raja iblis.... Tidak mungkin... Anak itu..."

WUUSSHH!!! Sebuah angin yang kuat berhembus dari Reealna. Api mulai membentuk dan melingkari Lamia.

  "Datanglah dan bawalah kehancuran...." gumam Reealna. "METEOR!!!"
  "Eh? Meteor?" ucap Lamia dan Zein bersamaan

Awan langit tiba-tiba terbelah menjadi 2 dan sebuah meteor besar terlihat sedang jatuh dengan sangat cepat ke arah Lamia.

  "WAAA!!! Hei! Reealna? Kau tak lupa aku dan Stellarin masih ada di sini kan?!" protes Zein. "Stellarin! Ayo lari!"
  "Hah? Ekornya belum matang!" balas Stellarin yang sudah menancapkan ekor Lamia pada Desolator dan memanggangnya di atas api unggun
  "Kalian berdua akan benar-benar menjadi manusia panggang!" teriak Lamia
  "Berisik kau ular! Seharusnya yang panik itu aku!" protes Zein
  "AKU JUGA DALAM BAHAYA DASAR BADUT!!!" balas Lamia

Saat mereka melihat bayangan meteor semakin mendekat. Zein langsung berteriak histeris

  "REAAALNAAAA!!!!!"

BLEDAR!!!!! Meteor tersebut menghantam Lamia dengan sangat kuat.... Beserta dengan Zein dan Stellarin. Meteor tersebut meledak dan melepaskan gelombang energi yang sangat kuat. Aone dengan cepat menunjuk ke depannya.

  "Massive Reflection Shield!"

Perisai suci muncul dan melingkari dia, Reealna dan semua warga yang berada dalam jangkauan ledakan. Saat gelombang energi dari meteor menghantam mereka, mereka semua baik-baik saja.

Sesaat setelah gelombang energi tersebut lewat, kabut asap tipis mulai menyelimuti radius ledakan tetapi dengan cepat menghilang dan meninggalkan sedikit hawa panas. Semua orang tertegun dan melihat ke dalam kawah yang ditinggalkan oleh meteor tersebut.

Mayat dari Lamia tergeletak di tengah-tengah kawah dalam kondisi hangus total.

  "Berhasilkah?" gumam salah satu warga

Tiba-tiba mayat Lamia mulai bergerak. Awalnya orang-orang mengira iblis ular itu masih hidup tetapi tiba-tiba saja mayat Lamia terbelah menjadi 2. Zein dan Stellarin keluar dari dalam perut iblis itu.

  "REAALNAAA!!! KAU IDIOT!!! KAU INGIN MEMBUNUH KAMI YA!?" protes Zein
  "Aaaah, ini terlalu hangus..." keluh Stellarin
  "Zein! Kakak Stellarin!" panggil Aone sambil berlari memeluk mereka berdua. "Kukira kalian benar-benar terpanggang!"
  "Tadinya aku berpikir seperti itu juga sampai aku menyadari jika kita berdua bisa masuk ke dalam perut ular ini" balas Zein

Reealna hanya berdiri diam. Dia menghela nafas lega sesaat lalu mengeluarkan sebuah botol bir dari saku belakangnya. Dia melepaskan penutup botol dengan mulutnya kemudian mulai minum. Zein, Stellarin dan Aone keluar dari dalam kawah dan melihat seluruh desa termasuk kuil hancur. Zein langsung menelan ludah dan keringat dingin.

  "Tolong ingatkan aku supaya jangan membuat Reealna marah" bisik Zein pada Aone. "Yah, setidaknya dengan ini, krisis danau Lakeia tuntas!"
  "Tuntas apanya??!" protes salah satu warga. "Pemabuk itu baru saja menghancurkan rumah kami!"
  "YA BENAR! PEMABUK ITU BARU SAJA MENGHANCURKAN SELURUH DESA!" sahut warga lain

Warga desa mulai mengeluarkan cacian makian pada Reealna tetapi Reealna terlihat sama sekali tidak peduli. Emosi dengan ekspresinya yang terkesan masa bodoh, mereka melemparinya dengan batu. Reealna bahkan tak menghindar dan membiarkan dirinya dilempari oleh batu.

  "PERGI KAU DARI DESA INI!" teriak para warga

Para warga terus melemparinya sambil berteriak. Melihat hal itu, Zein menjadi geram.

  "Stellarin, tolong gunakan mulutmu itu sebagai senjata" ucap Zein
  "Hm?" Stellarin kebingungan. "Ooooh, aku paham"

Stellarin menarik nafas yang sangat dalam. Dia menghentakan kakinya satu kali di tanah kemudian berteriak.

  "BERISIIIIIIKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!! DIAM KALIAN SEMUA JANGAN BANYAK BACOOOOOTTT!!!!"

Teriakan Stellarin yang sangat menggelegar seperti halilintar membuat semua orang terjatuh ke tanah dan menutup telinga mereka karena saking kuatnya.

  "Zein ingin berbicara" sambung Stellarin sambil menunjuk padanya
  "APA KALIAN BODOH?!" tanya Zein

Semua orang bangkit berdiri dan kebingungan.

  "Harta, harta, harta, dan harta.... HANYA ITU YANG KALIAN PIKIRKAN?!" tanya Zein
  "Tapi... Dia menghancurkan seluruh desa" jawab warga yang lain
  "KALAU BEGITU SALAHKAN IBLISNYA BODOH!!!"
  "Tapi-"
  "AKU BELUM SELESAI BERBICARA!!"

Zein memasang sabuk senjatanya kembali di pinganggnya dan berjalan menuju Reealna yang hanya diam menatapnya saja.

  "Apakah kalian bahkan berpikir kenapa iblis itu datang ke tempat ini?" tanya Zein. "Dia datang bukan karena dia tahu dia tidak terkalahkan di sini... Itu bukanlah alasannya kenapa dia datang ke tempat ini"

Zein mengeluarkan sehelai tissu dari saku dan menggunakannya untuk membersihkan darah yang mengalir di kepala Reealna karena terkena lemparan batu tadi.

  "Dia datang karena kalian sama sekali telah merupakan keberadaan Dewi dan Dewa yang selalu melindungi kalian" sambungnya
  "Zein..." gumam Aone
  "Memang benar, Dewi Kehidupan sekarang tak menjawab doa-doa kalian tetapi apakah hanya karena itu kalian langsung melupakan keberadaannya?" tanya Zein. "Apakah kalian tidak sadar jika dia masih memberkati desa ini dengan keindahan danau dan juga banyaknya hasil panen kebun serta makmurnya hewan-hewan ternak?"

Zein mengulurkan tangannya dan membantu Reealna berdiri.

  "Aku hanya ingin menjadi Priestess terhebat yang pernah ada di dunia. Membawa berkah Dewi Kehidupan pada semua orang dan membantu yang memerlukan..." ucap Zein
  "Z-Zein?" Reealna terkejut
  "Aku akan membuat desa Lakeia kembali berjaya seperti dulu!" sambung Zein

Zein mengeluarkan diary milik Reealna dari saku belakangnya dan menunjukannya pada Reealna. Wajah Reealna langsung memerah dan mengambil diary miliknya.

  "Benar kan? Reealna Millenia?" Tanya Zein
  "M-membaca diaryku.... T-tidak sopan..." jawab Reealna ketus. "Lalu memangnya kenapa dengan cita-citaku itu? Apa kau akan ikut melempariku juga?"

Zein hanya menggelengkan kepalanya.

  "Kau selalu memperhatikan desa ini secara diam-diam. Tiap malam, kau selalu menyelinap keluar mencoba untuk memurnikan danau sendirian sambil membuat doa pemberkatan dari kamarmu" ucap Zein.

Aone tersenyum melihat mereka. Dia datang menghampiri Reealna. Aone memegang kedua tangan Reealna.

  "Kakak Reealna, juga orang-orang di sini... Para Dewa dan Dewi selalu memperhatikan kalian dari kejauhan. Kumohon, jangan anggap enteng doa kepada mereka. Mereka dapat melihat isi hati kalian dan akan membalas niat baik dengan pemberkatan. Selama manusia tak melupakan hal itu, hati manusia akan menjadi kebal terhadap godaan iblis. Itu akan membuat iblis tidak akan datang mendekati mereka" ucap Aone

Stellarin hanya menggaruk kepalanya karena tak memahami apa yang terjadi atau apapun yang baru dikatakan oleh Zein dan Aone.

Aone menutup kedua matanya sesaat. Kedua tangannya mengeluarkan cahaya terang. Dalam waktu singkat, semua luka pada Reealna langsung sembuh tanpa berbekas. Aone melepaskan genggaman tangannya dan tersenyum pada Reealna.

Orang-orang diam takjub melihat kekuatan penyembuhan yang dimiliki Aone.

  "Jika Dewi Kehidupan ada di sini, dia pasti akan sangat bangga" ucap Aone. "Kakak Reealna, jalanilah jalan yang kau pilih dan tetaplah menjadi dirimu sendiri. Ya?"

Reealna terdiam sesaat. Dia menganggukan kepalanya perlahan. Tanpa disangka, dia meneteskan air mata.

  "Hei, aku tak mengerti apa yang terjadi... Tapi Zein, kau mencurigai jika ada mata-mata dari sekte Planare kan? Apa kau sudah tahu siapa pelakunya?" sela Stellarin mengelus-ngelus dagunya dengan penasaran
  "Aaah, ya benar juga" Zein menggaruk kepalanya

Orang-orang mulai berbisik-bisik ketika mendengar nama sekte Planare. Mereka tahu persis sekte Planare adalah orang-orang pemuja iblis yang secara aktif menyebabkan masalah kemanapun mereka pergi.

  "Hei, apakah semua Priest dan Priestess ada di sini?" teriak Zein. "Tolong berkumpul untuk sebentar!"

Reealna dibantu dengan orang-orang mengumpulkan semua Priest dan Priestess yang ada. 27 orang jumlahnya dan itu sudah termasuk Reealna.

  "Memang benar, iblis Lamia tahu orang-orang di sini sudah mulai melupakan keberadaan Dewa dan Dewi. Tetapi dari manakah dia tahu kalau orang-orang di sini sudah lupa dengan mereka?" tanya Zein

Warga mulai berdiskusi satu sama lain. Apa yang dikatakan Zein ada benarnya; mereka memang masih sering berdoa tetapi tidak sesering dulu.

  "Jawabannya sederhana; karena agen dari sekte Planare tau persis kapan dan dimana orang-orang di sini berdoa. Dulu, ketika kalian berkunjung ke kuil, bukankah kalian selalu mentandatangani sebuah buku kunjungan?" tanya Zein
  "Aaah, benar juga. Karena saking banyaknya pengunjung, sering banyak barang dari kuil yang hilang..." jawab salah satu warga
  "Lalu sejak kapan kalian berhenti melakukan itu?"

Semua orang terdiam. Mereka tahu mereka mulai melupakan Dewa dan Dewi hingga kuil Dewi Kehidupan jarang sekali kedatangan pengunjung. Zein mengetahui semua ini karena dia sempat melihatnya dalam diary milik Reealna.

  "Meskipun desa ini kecil, kalian tidak pernah tau kapan tetangga kalian pergi untuk berdoa. Yang mengetahui kapan dan siapa saja yang berdoa hanyalah para Priest dan Priestess di kuil" jelas Zein
  "Oooh!" Stellarin menjentikan jarinya. "Berarti salah satu dari mereka adalah pelakunya! Baiklah! Akan kutebas kepala mereka semua sampai pelakunya mengaku!"
  "Hoi.... Aku belum selesai... Lagipula kalau kau melakukan itu, yang jadi korban bukan hanya pelakunya" sela Zein.

Stellarin hanya tersenyum sambil menggaruk-garukan kepalanya. Zein kembali menatap Reealna.

  "Reealna, kau dari pindahan ibukota kan?" tanya Zein
  "Ya, memangnya kenapa?" balas Reealna kembali bertanya
  "Kau memiliki surat pindah bertugas kan?"
  "Ya, ada di sini" Reealna mengeluarkan selembar surat dari dalam diary miliknya
  "Mengingat kau dikirim ke tempat ini untuk membantu mereka yang baru di kuil, aku yakin surat pemindahan tugas itu disertai dengan lampiran tiap anggota yang ada di kuil"

Reealna menganggukan kepalanya. Dia membuka suratnya. Terlihat dengan jelas jika surat tersebut memiliki lampiran sebanyak 26 lembar.

  "Apakah kau bahkan membacanya?" tanya Zein
  "Tidak, aku tidak sempat membaca lampirannya" jawab Reealna
  "Memalukan..." gumam Zein. "Cobalah kau baca surat itu dan lihat siapa saja yang ada di dalamnya"

Reealna mulai membaca satu per satu lembar dari lampiran dan setelah membaca semua surat lembaran itu, semua orang terdiam dan menyadari 1 hal... Lyana Florense yang merupakan rekan kerja Reealna; namanya tidak ada.

  "Tidak ada nama Lyana Florense..." gumam salah satu Priest

Semua orang langsung menatap Lyana. Lyana mulai berkeringat dingin dan gemetar.

  "Benar. Lyana, namamu sama sekali tidak ada dalam daftar anggota resmi di kuil" sambung Zein.
  "I-itu karena aku tidak kebagian formulir biodata waktu perekrutan!" jawab Lyana

Mendengar jawaban Lyana barusan, Reealna dengan cepat menyergap Lyana; dia dengan brutal mendorongnya ke tanah dan tetap mendorong kepala Lyana supaya tetap ada di tanah.

  "Priest dan Priestess tidak pernah direkrut. Mereka adalah orang-orang yang mendedikasikan diri di dalam akademi dan kemudian dari bidang akademik akan mengirimkan biodata masing-masing kepada kelompok-kelompok religius tergantung dari ajaran apa yang dianut oleh masing-masing Priest dan Priestess. Ketika disetujui oleh kelompok yang dimaksud, Priest dan Priestess yang baru akan dikirimkan ke kuil atau tempat suci lainnya dan mereka akan dibimbing oleh Priest atau Priestess senior" jelas Reealna
  "Kalau memang benar demikian kenapa para Priest dan Priestess yang lain tidak pernah mencurigai Lyana?" tanya Stellarin
  "Kami semua tidak berasal dari satu kelas dan tidak pernah bertemu satu sama lain sampai kami ditugaskan di tempat yang sama" jawab salah satu Priest

Stellarin menganggukan kepalanya.

  "Pertanyaan terakhirku; ke mana perginya priestess yang satunya? Kalian seharusnya 27 orang kan? Aku menghitung Lyana dan jumlah kalian pas 27. Dengan kata lain, ada 1 orang yang digantikan oleh Lyana" ucap Stellarin
  "JAWAB KAU PENGKHIANAT!!!" bentak Reealna
  "Geh..." Lyana terlihat kesal. "Aku... Membunuhnya. Kalian pikir dari mana aku bisa mendapatkan seragam ini?"

Orang-orang desa mulai menjadi geram mendengar jawaban Lyana. Bukan hanya mengundang iblis ke desa mereka; dia juga membunuh Priestess.

  "TIKAM KEPALANYA DENGAN TOMBAK!" teriak salah satu warga
  "BENAR! POTONG LIDAHNYA!" sambung warga lain
  "Kalian ini sebenarnya ingin menikam kepalanya ataukah memotong lidahnya?" komplain Zein
  "TIKAM KEPALANYA LALU POTONG LIDAHNYA!" teriak Stellarin. "KEMUDIAN TIKAM LIDAHNYA!"
  "Hoi... jangan memanas-manasi mereka" tegur Zein

Zein hanya melirik pada Aone. Aone menggelengkan kepalanya sebagai tanda, dia tak mau ikut campur. Dia menatap Reealna dengan serius.

  "Aku akui... Aku dalang semuanya..." ucap Lyana. "Aku selalu ingin jadi Priestess... Tapi aku tidak pernah lulus ujian pendaftaran. Sampai aku bertemu dengan salah satu dari mereka... Mereka menawarkan pernjanjian denganku; aku akan diangkat menjadi Priestess jika aku bisa bersedia menyediakan tempat tinggal untuk iblis Lamia... Jadi aku setuju"

Setelah mengakui kesalahannya, para warga semakin geram. Mereka beramai-ramai mengangkat semua senjata mereka yang berserakan tadi dan berteriak-teriak menyumpahi Lyana.

  "Lyana Florense!" ucap Reealna. "Kau dituduh telah mengundang iblis Lamia ke dalam desa ini dan membunuh Priestess bernama Tirina Yolhia. Apakah kau mengakui semua tuduhan tersebut?"
  "Ya..." jawab Lyana tak semangat
  "Apakah kau ingin mengatakan sesuatu sebagai pembelaan diri?" tanya Reealna
  "Sebenarnya... Aku tak setuju dianggap bagian dari Planare.... Aku juga tak suka mereka.... Aku hanya ingin menjadi Priestess... Itu saja" jawab Lyana
  "Kalau begitu, aku; Reealna Millenia, dengan ini memutuskan untuk mengirimu ke penghakiman tertinggi organisasi Priest dan Priestess Dunia. Nasibmu akan ditentukan oleh hasil pengadilan!" ucap Reealna

Orang-orang terdiam dan terlihat kecewa karena mereka tak diberikan kesempatan untuk menyiksa Lyana. Aone hanya tersenyum mendengar keputusan tersebut.

2 warga datang dan memborgol tangan Lyana dan memaksanya untuk berdiri. Reealna berdiri, kemudian lanjut meminum bir yang ditinggalkannya tadi.

  "Heeee.... Tidak ada penyiksaan?" keluh Stellarin
  "Tidak ada dan tidak boleh selama aku masih bertugas di sini" jawab Reealna. "Lyana; tak peduli dia pengikut sekte Planare ataukah tidak.... Dia tetap manusia. Selama dia belum berubah menjadi setengah iblis, aku tak punya hak untuk menghakiminya"
  "Heh, kau ini benar-benar orang aneh Reealna" ucap Zein
  "Tidak seaneh kalian" balasnya tersenyum. "Terimakasih banyak, kalian bertiga..."

Zein dan Aone hanya tersenyum. Tiba-tiba mereka mencium bau yang sangat busuk berasal dari Stellarin. Mereka menatap perempuan itu, dia hanya tersenyum sambil sedikit tersipu.

  "Aku.... Sepertinya telah melakukannya..." ucap Stellarin malu-malu
  "SERIUS?! DI CELANAMU?!" balas Zein syok
  "J-JOROK!!!" balas Aone
  "Aaaaah, bagaimana ini? Zeeiiin?"
  "MENJAUHLAH DARIKU WANITA SETENGAH BUGIL!!!"
  "SIAPA YANG KAU PANGGIL SETENGAH BUGIL?!"

***********

  Besok paginya; Zein, Aone, dan Stellarin berangkat pergi meninggalkan desa Lakeia. Semua orang masih sibuk memperbaiki reruntuhan desa mereka dan telah bertekad membangun kembali desa mereka; lebih baik dan lebih indah lagi dari sebelumnya.

Karena Aone telah memurnikan danau mereka, mereka sekali lagi bisa masuk ke danau tanpa khawatir jika akan ada serangan iblis. Ditambah lagi Lyana telah diantar ke ibukota oleh beberapa warga.

  "Hei Aone, aku khawatir tentang Lyana" ucap Zein. "Para warga sangat membencinya... Bagaimana jika mereka membunuhnya saat dalam perjalanan?"
  "Tenang saja, mereka sangat menghormati Priestess dan Priest. Apalagi setelah sadar jika Reealna sangat peduli pada desa mereka, mereka akan mematuhi perintahnya karena merasa bersalah telah melemparinya" jawab Aone
  "Yaah, setidaknya kita mengalahkan iblis itu dan menyelamatkan desa dari masalah!" sela Stellarin. "Zein aku tak menyangka ternyata kau lumayan pintar juga"
  "Heh, sebenarnya aku dulu pernah memalsukan beberapa surat jadi aku tau persis beberapa hal tentang peraturan di Kerajaan" jawab Zein

Stellarin tertawa.

  "Hihihi, akan kuceritakan itu pada semua orang jika kau tak membayar hutangmu" ancam Stellarin
  "Kejam" keluh Zein.

Aone hanya tersenyum. Dia tak menyangka jika kelompok yang terdiri dari pengembara tanpa tujuan dan juga ksatria perempuan setengah telanjang tanpa otak dan logika bisa menyelamatkan desa Lakeia.

Mereka mendengar langkah kaki dari belakang, saat mereka melihat ke belakang, mereka menyadari itu adalah Reealna. Perempuan itu telah membawa seluruh barang-barangnya.

  "Aku akan ikut dengan kalian" ucap Reealna
  "Heh?! KENAPA?!" tanya Zein syok
  "Kau lupa? Aku dikirim untuk memurnikan danau sambil membantu para Priest dan Priestess baru tersebut" jawab Reealna. "Saat aku terbangun kemarin, aku sadar danaunya entah bagaimana telah dimurnikan dengan kekuatan suci yang sangat hebat sehingga tugasku telah selesai"

Zein masih syok sementara Stellarin dan Aone terlihat sangat gembira. Mereka berdua langsung memeluk Reealna. Hal ini membuat Reealna terasa sedikit malu.

  "Apa benar tidak apa-apa untukmu pergi dengan kita?" tanya Zein
  "Ya, kudengar kalian akan pergi ke ibukota. Tujuan kita sama, jadi kenapa kita tak pergi bersama-sama saja?" jawab Reealna
  "Asyiik! Akhirnya ada perempuan dewasa lain yang bisa kuajak cerita!!!" seru Stellarin tersenyum lebar
  "Lagipula... Aku tidak hanya menguasai sihir suci saja... Aku juga menguasai berbagai macam sihir. Apa yang akan kalian lakukan seandainya kalian bertemu dengan monster yang kebal serangan biasa?" tanya Reealna

Zein menepuk kepalanya sesaat. Meskipun dia terlihat seperti orang yang mengeluh, dia sebenarnya tersenyum senang.

  "Yah, apa boleh buat...." ucap Zein. "Ayo!"

Reealna tersenyum. Dulunya hanya 3 orang, sekarang menjadi 4 orang. Zein dan kelompoknya pun berjalan melanjutkan perjalanan mereka!

**************
Bersambung

  Episode selanjutnya,
  Aaaah! Tadi itu benar-benar episode yang panjang! Selanjutnya! Kami tiba dihadang oleh seorang perempuan tak dikenal! Siapakah perempuan ini? Jangan lewatkan episode selanjutnya hanya di blog ini!

  "Zein apakah Aone selalu berbicara sendirian seperti ini?"
  "Ah ya, dia selalu begitu... Biarkan saja, namanya juga anak kecil"

Hei!!! Aku bukan anak kecil!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar