Kamis, 21 Desember 2017

Sacred Tree Part-6

  Episode sebelumnya,

  Tyn ditemukan oleh Fira dan rombongannya. Rupanya para priestess dari kuil Mira diculik oleh komplotan bandit saat mereka dalam perjalanan menuju ibukota dan ditemukan tewas. Setelah kembalinya mereka ke ibukota untuk melapor, Tyn tidak dikenakan hukuman karena fakta jika informasi rahasia tentang kristal hitam yang merupakan relik kuno iblis yang dititipkan pada Tyn berhasil diketahui oleh sekelompok bandit.

Hal itupun membuat bishop Reina meminta beberapa orang untuk menyelidiki tentang kemungkinan adanya pengkhianat di dalam Holy Order. Belum lagi laporan Fira yang meminta bantuan Holy Order untuk meredakan tegangan politik antar-kerajaan yang semakin memanas menandakan akan terjadi bencana besar di seluruh dunia.

Tyn mulai menyadari efek dari kontraknya dengan demon monarch Lilysha sudah mulai mengubah fisiknya sedikit. Masih diliputi dengan rasa bersalah karena lalai dalam bertugas, Tyn cukup beruntung untuk bertemu dengan Roland, orang yang sangat disukainya namun pada saat bersamaan Lilysha mengincar Roland sebagai makanan.

Apakah Tyn mampu menghentikan Lilysha, demon monarch yang membuat kontrak dengannya sebelum Roland jatuh ke dalam godaan Lilysha?




************************
Sacred Tree
Part-6
Cinta Pertama Tyn?!

  Siang hari ini workshop di dalam kuil utama Holy Order di ibukota sedang disibukan dengan kekuatan sihir yang hebat. Meskipun anggota Holy Order bukanlah petarung atau pedagang, mereka memiliki workshop umum yang bisa digunakan oleh setiap anggota Holy Order untuk menolong semua orang karena terkadang anggota Holy Order tidak memiliki uang untuk membeli bahan namun memiliki bakat.

Leisha sedang mengawasi Tyn yang hari ini mengenakan pakaian biasa karena seragamnya rusak. Dengan tenang Tyn meng-enchant perlengkapan milik anggota Holy Order yang ada di dalam workshop.

  "Sejak kapan dia mampu menggunakan sihir Enchantment? Mustahil dia menguasai sihir serumit itu di dalam perjalanannya yang hanya memakan 1 bulan. Aku yang mempelajari sihir itu selama 5 tahun saja masih tidak bisa mempertahankan enchantment lebih dari 10 menit" pikir Leisha

Sihir enchantment, sihir yang mencampurkan kekuatan sihir ke dalam perlengkapan. Termasuk salah satu sihir yang rumit untuk dikuasai sepenuhnya. Tyn yang dikenal hanya bisa menggunakan elemen suci bisa terlihat jelas memasukan elemen lain ke dalam perlengkapan yang ada dengan sihir enchanment.

  "Apakah jangan-jangan dia termasuk Silent Water? Tidak, itu mustahil. Semua Silent Water telah punah sejak dahulu kala dan tidak ada satupun keturunan mereka yang hidup. Tapi bagaimana caranya dia bisa menggunakan elemen lain selain elemen suci hanya dalam jangka 1 bulan perjalanan?"

Leisha menyadari jika kondisi fisik Tyn juga jauh lebih kuat dari orang biasa dan kemampuan sihirnya telah meningkat drastis. Belum lagi dengan perubahan pada warna rambutnya yang mulai memutih.

Silent Water adalah julukan untuk keturunan penyihir jenius yang memiliki kekuatan sihir yang luar biasa. Biasanya seseorang bisa mengukur kekuatan sihir hanya dengan memperhatikan aura sihirnya, sudah menjadi aturan tak tertulis bagi mereka yang mempelajari sihir jika; semakin besar aura sihir seseorang maka semakin hebat juga kekuatannya.

Silent Water mematahkan aturan tersebut. Mereka memiliki kekuatan sihir yang luar biasa namun tidak memiliki aura sihir sama sekali. Bisa dibilang mereka sering disangka sebagai iblis karena iblis juga sangat mahir dalam menyembunyikan keberadaan mereka. Karena alasan itulah juga, Silent Water secara aktif dibunuh dan keturunan terakhir Silent Water telah punah ribuan tahun yang lalu.

Tyn cukup beruntung karena Leisha tidak mengetahui jika ini adalah hasil kontraknya dengan Lilysha, salah satu demon monarch terkuat. Kontraknya membuat Tyn mendapatkan kekuatan yang besar namun dia perlu mempelajarinya dan belajar mengendalikan kekuatan yang besar tersebut.

Meskipun Lilysha tidak ada di sekitar Tyn sekarang karena takut beberapa Holy Priestess bisa mendeteksinya, dia masih bisa membimbing Tyn dengan telepati. Tyn memang tidak berbakat namun dia pekerja keras dan ulet dalam belajar bahkan jika dia belajar dari musuh bebuyutan Holy Priestess sekalipun.

  "Hebat sekali, kau sudah menguasai semua elemen dalam waktu yang singkat" ucap Lilysha dengan telepati
  "Itu berkat bantuanmu yang membuat proses belajarnya menjadi mudah" bisik Tyn

Tyn terdiam sesaat, dia baru saja berterimakasih pada iblis. Otaknya sekali lagi berhenti bekerja untuk sesaat. Lilysha mencoba untuk menahan rasa gelinya karena dia sudah mengetahui sifat Tyn yang sangat polos dan sangat terdoktrinasi oleh Holy Order.

Leisha mengambil sebuah pedang pendek yang baru saja di-enchant oleh Tyn. Dia mencoba untuk mengukur kekuatan enchantment milik Tyn dan spontan syok begitu dia menyadari kekuatan sihir luar biasa yang tersimpan di dalam pedang tersebut.

  "Ada apa senior?" tanya Tyn melihat ekspresi Leisha
  "Tidak, tidak ada apa-apa" balas Leisha

Tyn menaikan alis matanya sesaat kemudian lanjut mengerjakan apa yang dikerjakannya tadi. Sebenarnya alasan Tyn meng-enchant perlengkapan di dalam workshop adalah karena Lilysha yang menyuruhnya untuk melatih dirinya dengan meng-enchant perlengkapan yang digunakan Holy Order.

Bagi Tyn ini latihan ini bisa sekaligus membantu orang-orang di Holy Order namun bagi Lilysha, latihan Tyn ini membuat Lilysha setidaknya tahu perlengkapan dari Holy Order. Bagaimanapun juga, Lilysha adalah iblis yang ingin menguasai dunia dan dia ingin supaya kelak nanti saat dia menginvasi dunia ini, dia ingin supaya tidak ada banyak perlawanan karena baginya; semakin banyak budak yang tunduk padanya semakin bagus. Ketika invasi iblis terjadi, maka satu-satunya musuh yang harus dimusnahkan oleh para iblis adalah Holy Order dan para Priestess Agung mereka karena mereka dianggap sebagai pertahanan pertama dan terakhir dunia terhadap iblis, sisanya hanyalah masalah waktu saja.

Leisha memperhatikan Tyn yang sudah kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaanya. Dia benar-benar curiga ada sesuatu yang terjadi dengan Tyn. Memang benar Tyn yang dilihatnya masih Tyn yang dikenalnya hanya saja dia merasa ada yang ganjil. Salah satu perubahan terbesar yang dilihatnya adalah warna rambut Tyn yang mulai memutih.

Tanpa disadari mereka berdua, Roland melangkah masuk ke dalam workshop, dia langsung mengangkat suara untuk menyapa Leisha dan Tyn.

  "Selamat siang!"

Leisha dan Tyn menoleh pada Roland. Wajah Tyn langsung memerah dan spontan dia menundukan kepalanya dan berbalik pada meja di depannya sambil mengelus-ngelus pipinya sendiri. Jantungnya mulai berdebar-debar tidak menentu.

  "Ah, Ksatria Roland? Selamat datang di workshop" balas Leisha sambil membungkuk
  "Ahahah, Leisha, kau tidak perlu begitu formal di depanku. Lagipula aku ini hanya tentara bayaran saja, jika masa kontrakku habis, aku akan kehilangan posisiku" balas Roland santai

Leisha berhenti membungkuk sambil tersenyum mendengar jawaban Roland. Leisha memiliki semacam hubungan aneh dengan Roland mengingat dulunya Leisha sering melakukan tindakan kriminal ringan seperti membuat keributan dan mencuri sesuatu hanya untuk dikembalikan nantinya. Tiap kali Leisha membuat tindakan kriminal, entah mengapa ujung-ujungnya dia selalu bertemu dengan Roland.

Banyak anggota Holy Order yang percaya jika Leisha itu jodohnya Roland namun itu sebenarnya karena Roland sering berpatroli di kota daripada duduk di belakang meja membaca laporan. Ibukota kekaisaran memang adalah kota yang sangat besar dan megah, tetapi kebetulan saja Roland memang ditugaskan di tempat dimana Leisha sering melancarkan aksi kriminalnya dulu.

  "Jadi? Ada keperluan apa sampai kau datang ke sini? Apakah kau ingin senjatamu di-enchant juga?"
  "Enchant?" balas Roland. "Holy Order memiliki spesialis enchant sekarang?"
  "Yaah, belum resmi sih" balas Leisha sambil melirik pada Tyn
  "Tenangkan dirimu, tenangkan dirimu, tenangkan dirimu..." gumam Tyn pada dirinya sendiri

Leisha menggelengkan kepalanya melihat Tyn yang mencoba untuk tenang. Dia menarik nafas sesaat.

  "TYN!"

Suaranya yang menggelegar seperti guntur mengejutkan Tyn dan Roland. Tyn berdiri dan menghadap Leisha tetapi ekspresi wajah Leisha yang sangar dan menyeramkan membuat Tyn gemetaran keringat dingin.

  "Ahahahah"

Roland hanya tertawa melihat Tyn yang gemetaran karena Leisha. Melihat Roland membuat Tyn langsung terpana dan diam menatap Roland.

  "Kau masih ingat dengan Tyn kan?" tanya Leisha
  "Tnetu saja, mana mungkin aku bisa lupa?" balas Roland santai. "Dia itu selalu menempel denganmu kan? Aku sampai mengira dia itu kekasihmu atau semacamnya hahahahaha!"
  "Kau ingin kukuliti hidup-hidup ya?" geram Leisha
  "Ahahahah, bercanda! Aku hanya bercanda kok Leisha. Kau ini sama sekali tidak bisa diajak bercanda ya?"
  "Maaf, aku ini selalu mempertaruhkan nyawa tiap kali bercanda, jadi apakah kau mau mempertaruhkan nyawa juga?"

Roland hanya menggaruk kepalanya karena tidak tahu harus merespon seperti apa. Leisha memang dari dulu selalu begitu padanya. Mungkin karena dia masih dendam karena Roland selalu menghentikannya saat Leisha masih menjadi preman jalanan dulu.

  "Jadi Tyn" panggil Roland
  "Y-ya! A...a... ada apa?"
  "Jangan gugup seperti itu, dia tidak berniat untuk memakanmu atau semacamnya" keluh Leisha
  "Y-ya! Mohon maaf" balas Tyn masih gugup

Leisha hanya menggelengkan kepalanya. Dia tahu jika Tyn memang menyukai Roland dan ini adalah kesempatan bagus untuk mendekatkan Tyn dengan Roland.

  "Aku baru teringat ada urusan penting yang harus kuselesaikan dengan bishop. Jadi kutinggalkan kalian berdua di sini" ucap Leisha
  "EEEEH?! Senior Leishaa!!!" respon Tyn sedikit panik

Leisha hanya menunjukan jempol pada Tyn kemudian berjalan menuju pintu keluar. Dia berhenti sesaat untuk menepuk pundak Roland sesaat.

  "Sikat" ucap Leisha
  "Ha?"

Leisha berjalan keluar sambil menutup pintu meninggalkan Roland yang sama sekali tidak mengerti kode dari Leisha. Pada saat bersamaan Tyn mulai gemetaran, bukan karena takut tetapi karena saking gugupnya karena saat ini juga dia menyadari jika dia sedang berduaan dengan Roland.

  "Tenangkan dirimu, tenangkan dirimu, tenangkan dirimu, Roland itu manusia... dia itu jodohnya senior Leisha, mana mungkin dia akan suka denganku... Tenanglah, tenanglah" gumam Tyn dalam hati
  "Jadi, Tyn" sahut Roland mencoba memulai pembicaraan
  "Kyaaa, dia berbicara denganku! B-b-b-bagaimana ini? Aku tidak bisa tenang... aku tidak bisa tenang... tidak, aku harus bisa tenang! Tidak! Aku tidak bisa tenang!! Aku..."
  "Maukah kau meng-enchant senjataku?" tanya Roland
  "Tidak bisa!!" teriak Tyn keceplosan

Roland menaikan alis matanya. Tyn spontan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Roland hanya tersenyum santai sambil mengangkat bahunya.

  "Yaah, apa boleh buat"
  "Ah, t-tidak!" bantah Tyn. "A-a-a... aku bisa! A-aku... aku mau!"
  "Ha?"
  "A-a...aku mau! A-aku... aku mau meng-enchant senjatamu!"

Roland menggaruk kepalanya sesaat tetapi kemudian dia tersenyum. Dia memberikan Tyn pedang miliknya yang masih tersimpan rapi di dalam sarungnya. Dengan gugup, Tyn mengambil pedang tersebut dan berlari pada mejanya.

  "A...a...aku menyentuh pedang milik Roland..." gumam Tyn dalam hati karena senang

Tyn menelan ludah. Dia mulai mengumpulkan kekuatan untuk meng-enchant senjata milik Roland. Namun saat dia akan meng-enchant senjata tersebut, dia baru teringat dia tidak tahu elemen apa yang diinginkan oleh Roland dan berapa lama.

  "A-anu.... T...tuan Roland?" tanya Tyn gugup
  "Jangan panggil aku tuan, aku ini tidak jauh lebih tua darimu lho" balas Roland santai
  "Ah... m-maaf" balas Tyn. "A-anu... soal senjata ini..."
  "Ada apa?"
  "Anu... perempuan tipe apa yang kau sukai?"
  "Ha?"

Tyn berbalik kemudian menepuk-nepuk pipinya sambil menggelengkan kepalanya.

  "Apa yang baru saja kukatakan?!" ucap Tyn dalam hati
  "Tyn? Kau tidak apa-apa kan? Apa kau sakit? Jika kau sakit, jangan memaksakan dirimu, aku bisa datang lain kali saja"
  "Ah tidak! A-a...aku baik-baik saja!" sela Tyn gugup
  "Hmm..." Roland mengelus-ngelus dagunya
  "A-anu... senjata ini. Per... maksudku elemen apa yang kau inginkan? Berapa lama?"
  "Suci, aku tidak tahu berapa lama tapi malam ini mungkin aku akan sangat membutuhkannya"

Tyn menganggukan kepalanya. Dalam sekejap, dia mengalirkan elemen suci ke dalam senjata milik Roland. Roland menaikan alis matanya ketika melihat senjata bersinar untuk sesaat. Tyn bangkit berdiri dan dengan gugup dia memberikan senjata Roland kembali.

Roland menerimanya dengan senang hati dan senyuman yang ramah seperti biasa.

  "Kau benar-benar hebat sekarang ya Tyn" puji Roland
  "T-t-tidak juga kok!" bantah Tyn gugup
  "Tapi, biasanya ketika orang meng-enchant senjata akan memakan waktu berjam-jam tapi kau hanya melakukannya dalam hitungan detik. Lagipula..."

Roland menoleh pada perlengkapan di atas meja yang sudah di enchant oleh Tyn, semuanya mengeluarkan cahaya redup sesuai dengan warna elemen. Roland melihat ada total 6 elemen di atas meja; api, air, udara, tanah, petir, dan suci.

Menguasai 1 elemen untuk enchantment saja sudah sangat sulit, bahkan orang dengan gelar master enchanter sekalipun hanya mampu menguasai 1 atau 2 elemen sihir saja dengan baik dan meninggalkan elemen-elemen yang lain. Tyn, di sisi lain mampu menyeimbangkan pembagian elemen sihir. Singkatnya, Tyn sudah bisa dianggap melebihi kemampuan orang dengan gelar master enchanter.

Tentu saja, itu semua berkat Lilysha yang sudah menguasai semua elemen sihir kecuali elemen suci. Kekuatan Lilysha bersatu dengan tubuh Tyn selaku wadahnya Lilysha.

  "6 elemen sekaligus. Itu sangat hebat! Aku bahkan sampai merasa iri" puji Roland dengan semangat

Mendengar pujian dari Roland membuat hati Tyn merasa seperti melayang-layang di udara. Dia belum pernah merasa sangat senang sebelumnya.

  "Ah, t-tapi... aku tidak sehebat Roland!" bantah Tyn. "Roland adalah petarung yang kuat! Bukan hanya itu, Roland juga pemberani... dan juga... um.... populer di kalangan perempuan"
  "Ahahahah, apakah itu mengganggumu?" tanya Roland
  "Eh?" Tyn terdiam sesaat

Roland menyadari pipi Tyn semakin memerah.

  "Tyn, jika kau tanya padaku, aku ini jauh lebih nyaman berbicara denganmu dibandingkan dengan siapapun" ucap Roland

Mendengar itu, jantung semakin berdebar-debar. Tyn mulai berpikir untuk langsung menyatakan perasaanya sekarang juga namun sebelum dia bisa berbicara, ada seorang prajurit kekaisaran masuk ke dalam workshop.

Tyn sudah terbiasa melihat wajah para prajurit yang sangar-sangar apalagi mereka yang berada di bawah komando Roland selaku kartu as dari kekaisaran. Mereka semua adalah veteran perang dan bisa dianggap sebagai prajurit elit dari yang paling elit.

  "Kapten! Ah?" prajurit tersebut berhenti berbicara melihat pipi Tyn yang masih merah
  "Ada apa Alf?" tanya Roland santai
  "Aah, mohon maaf Kapten. Kami sudah mewawancarai saksi mata kunci tetapi mereka sama sekali tidak bisa menemukan identitas pelaku yang membunuh Regrein"

Roland mengelus-ngelus dagunya. Tyn menggaruk kepalanya sesaat.

  "Um... apakah itu ada hubungannya dengan mengapa kau mengunjungi kuil hari ini?" tanya Tyn
  "Begitulah. Aku berniat untuk meminta bantuan pada bishop" jawab Roland serius
  "Sekte pemuja iblis?" gumam Tyn
  "Entahlah, yang jelas ada sesuatu yang bukan manusia dan sangat berbahaya sedang berkeliaran di dalam kota. Tyn, jika terjadi sesuatu atau jika kau melihat sesuatu yang aneh, segera lapor pada para penjaga"

Tyn menganggukan kepalanya perlahan.

  "Ah, selain itu Tyn"
  "Y-ya?"
  "Aku juga datang untuk berbicara denganmu, tapi mungkin kita akan lanjutkan nanti saja ya"

Tyn tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

  "Kalau begitu, aku pamit dulu. Terimakasih Tyn" ucap Roland. "Alf, segera kumpulkan mereka semua di tempat biasa. Pastikan kau bersama seseorang, kita akan perluas area pencarian. Katakan pada mereka untuk bersiap-siap bergerak begitu aku kembali. Aku akan meminta bantuan pada Holy Order. Sisanya akan kuberitahu nanti"
  "Siap laksanakan!"

Roland berjalan keluar bersamaan dengan prajurit tadi meninggalkan Tyn sendirian. Tyn menghela nafas lega untuk sejenak kemudian rasa penyesalan yang luar biasa mulai membanjiri pikirannya. Baginya, dia baru saja membuang kesempatan emas untuk menyatkan perasaanya.

Kesempatan emas seperti ini mungkin saja tidak akan datang untuk kedua kalinya lagi mengingat Roland akan sibuk karena posisinya.

  "Tyn, manisku? Ada apa? Aku bisa merasakan keputusasaan yang luar biasa"

Suara Lilysha yang bergema di dalam kepalanya mengejutkan Tyn untuk sesaat kemudian dia teringat kembali jika itu adalah efek samping kontraknya. Apapun yang diraskan oleh Tyn akan juga dirassakan oleh Lilysha.

Iblis sebenarnya tidak punya perasaan tetapi mereka mampu berpura-pura memiliki dan merasakan sedikit dari perasaan emosional tetapi mereka tidak akan pernah mengerti, berbeda dari manusia. Meskipun begitu, sebagai succubus, Lilysha memahami sedikit apa yang dirasakan oleh Tyn.

  "Kehilangan kesempatan untuk menyatakan perasaanmu pada seseorang? Fufufufu, manis sekali" ledek Lilysha
  "Berisik" gumam Tyn
  "Hey sayang? Datanglah ke tempatku bekerja. Kau bisa curhat denganku di sana"

Tyn menghela nafas. Dia hanya tidak bisa menyangka jika sesosok iblis baru saja mengajaknya untuk curhat. Mengingat identitas asli Lilysha sebagai demon monarch dan sesosok succubus, kata "curhat" malah terdengar seperti "menghasut".

Tyn merasa dia tidak perlu menuruti kemauan Lilysha kali ini karena dia punya Leisha untuk curhat. Saat itu juga, dia menyadari sesuatu yang dikatakan oleh Lilysha terasa ganjil.

Tyn memfokuskan pikirannya dan menghubungkan dirinya dengan Lilysha melalui telepati.

  "Kau bekerja?" tanya Tyn
  "Tentu saja, aku juga perlu uang!"
  "Tapi... kau kan iblis. Bukannya seharusnya kau yang menggoda orang dengan uang atau menggoda orang memberimu uang? Kau punya tubuh yang... ehem, bagus"
  "Tsk, tsk, tsk, manisku... dunia akan segera menjadi milikku pada waktunya tetapi katakan, apakah gunanya aku memimpin dunia ini jika aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang kalian lakukan selama ini?"

Tyn terdiam. Apa yang dikatakan oleh Lilysha terdengar masuk akal. Apakah gunanya seorang pemimpin jika dia sendiri tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka yang berada di bawahnya? Seorang pemimpin, setidaknya harus tahu persis apa yang dilakukan oleh bawahannya sehingga dia bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemberontakan atau semacamnya.

Hati kecil Tyn mulai mempertanyakan mengapa para Archbishop memilih dirinya dari semua orang untuk pergi mengantarkan relik iblis ke kuil yang bahkan tidak punya kemampuan untuk memurnikan relik tersebut. Dia memang diajar untuk tidak terlalu mempertanyakan keputusan dari Archbishop karena mereka adalah para petinggi Holy Order namun... jika memang mereka ingin supaya relik tersebut direbut, maka Tyn adalah kandidat yang paling sempurna untuk target perampokan. Tyn begitu lemah dan hanya mampu menggunakan sihir suci yang sangat terbatas, dia menjadi kuat dan berbakat seperti sebagai efek dari kontraknya dengan Lilysha.

Jadi... mengapa? Untuk apa? Tyn membuang pemikiran-pemikiran itu dari kepalanya. Ada orang yang menginginkan relik tersebut dan sekarang relik tersebut diam-diam ada di tangan Lilysha.

  "Lilysha, kurasa aku akan menolak ajakanmu kali ini. Aku ingin bertemu dengan seseorang" balas Tyn melalui telepati
   "Awww, mengecewakan. Apa boleh buat, jika kau ingin bertemu denganku, hubungi aku lagi"

Tyn menghela nafas. Leisha kembali masuk ke dalam, melihat ekspresi Tyn saja membuat Leisha sudah tahu jika Tyn melewatkan kesempatan emas. Leisha menepuk kepalanya karena merasa kecewa dengan Tyn.

  "Dasar kau ini..." keluhnya
  "Ma-maaf!" balas Tyn
  "Sudahlah, dia juga akan berhubungan dengan Holy Order untuk sementara. Selagi kita tidak ada tugas ke luar, aku akan menghubungi Bishop dan mencoba mengorek informasi"

Tyn menganggukan kepalanya dengan penuh rasa malu. Leisha menepuk kepala Tyn dengan lembut untuk menghiburnya. Kemudian ekspresi Leisha berubah menjadi serius untuk sesaat.

  "Tetapi... kasus pembunuhan ya? Cih, apa yang sebenarnya terjadi di sini?" gumam Leisha. "Tyn, berhati-hatilah oke?"
  "Ya senior Leisha!"

*****************

  Malam harinya di dalam sebuah penginapan terkenal "Gold Heaven" menjadi sangat ramai karena keberadaan Lilysha. Gold Heaven, sebuah penginapan yang populer di kalangan para tentara dan petualang.

Pelayanan di dalam penginapan sekaligus bar ini sangat murah sehingga bisa dijangkau oleh sebagian besar pengunjungnya tetapi semenjak pulangnya Tyn dan Lilysha, penginapan ini menjadi semakin ramai.

Alasannya tentu saja karena Lilysha. Sebagai sesosok succubus, dia memang sangat cantik. Terlalu cantik sampai-sampai orang bisa menganggapnya sebagai malaikat dari Surga yang turun ke bumi padahal kenyataannya dia adalah iblis yang sangat kuat.

Mengaku sebagai petualang dan bekerja sebagai pelayan paruh waktu, Lilysha tidak hanya berniat mencari makan atau menghibur dirinya dengan memikat laki-laki yang datang, dia juga berniat mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tanpa menarik perhatian Holy Order dan mengumpulkan uang untuk mendanai keperluan Tyn selaku wadahnya di dunia ini.

Roland dan salah satu anggota peletonnya masuk ke dalam penginapan setelah mencari petunjuk tentang pembunuhan yang ada di kota. Lilysha yang mengenali Roland langsun berlari menyambut mereka sebagai seorang pelayan.

Lilysha tersenyum, sedikit membungkuk dan mengangkat rok pelayannya sedikit; itu adalah adat di dunia ini.

  "Selamat datang tuan!" ucap Lilysha. "Nama saya Cilya, terimakasih telah datang mengunjungi penginapan ini"
  "Oho, Kapten, ini pelayan baru yang kudengar lho" bisik teman seperjuangan Roland
  "Aku ingin segera ingin kembali berpatroli, kasusnya masih belum tuntas" keluh Roland
  "Santailah sedikit Kapten, kau terlalu serius. Kau bahkan tidak makan siang"

Lilysha yang telinganya tajam berpura-pura tidak mendengar bisikan-bisikan tersebut. Dia sudah tahu siapa Roland tetapi dia berpura-pura tidak mengenali Roland. Lilysha memperhatikan Roland dari ujung kaki hingga kepala.

  "Kalian adalah prajurit resmi ya? Terimakasih telah melindungi kota ini" puji Tyn sambil membungkuk
  "Aku hanya tentara bayaran sih" balas Roland
  "Kapten, kau terlalu kaku" komentar salah satu prajurit di belakang Roland

Roland menggaruk kepalanya sesaat karena dia memang jarang sekali mengunjungi penginapan. Dikarenakan dia lebih sering menghabiskan waktunya di luar perkotaan karena tugas dan tanggung jawabnya.

Lilysha menghitung berapa banyak rombongannya Roland dan memperhatikan sebuah meja besar di dekat jendela.

  "Kemarilah, saya akan menyiapkan tempat duduk untuk kalian para prajurit pemberani sekalian" ucap Lilysha

Lilysha mengantarkan mereka pada meja kosong tersebut dan mencatat pesanan mereka. Tak memakan waktu lama untuk pesanan mereka siap disajikan oleh Lilysha sendiri. Sambil menikmati makanan mereka, rekan-rekan Roland membicarakan tentang kecantikan Lilysha.

Roland di sisi lain hanya diam sambil makan dengan santai. Dia masih memikirkan tentang rekannya yang tewas di dalam kota. Dia memang sudah terbiasa kehilangan rekan tetapi dia selalu marah dengan siapapun yang menyakiti rekan-rekannya. Memang sudah seperti itu sifatnya dari dulu.

Lilysha berpura-pura berjalan melewati meja dimana Roland dan rekan-rekannya makan.

  "Ah maaf nona!" panggil Roland
  "Ya?" balas Lilysha
  "Kamar mandinya di mana?"
  "Cih, kupikir dia sudah terpana" geram Lilysha dalam hati

Lilysha membungkuk sedikit.

  "Kemari tuan, akan saya antarkan" ucap Lilysha
  "Oi serius?!" ucap salah satu rekannya Roland. "Aku juga ingin pergi ke kamar mandi kalau begitu"

Lilysha menatap rekannya Roland sambil tersenyum tetapi entah mengapa, senyumannya kali ini mengandung hawa membunuh yang kuat.

  "Oh benarkah?" tanya Lilysha. "Aku ini tidak suka pembohong lho"
  "T-tidak jadi deh" gumam rekan Roland yang tadi

Roland menghela nafas sesaat tetapi dia merasa kagum dengan Lilysha. Lilysha punya kemampuan untuk bisa mengetahui maksud dibalik perkataan rekannya barusan. Bagi iblis seperti Lilysha, mengetahui kapan seseorang berbohong bukanlah hal yang sulit.

  Lilysha pun mengantarkan Roland ke kamar mandi di bagian belakang penginapan. Mereka berhenti di depan kamar mandi laki-laki yang kebetulan sepi.

  "Ah, terimakasih" ucap Roland

Lilysha hanya membungkuk sebagai balasan; mengikuti etika dan adat di dunia ini tetapi Lilysha tidak beranjak pergi. Dia tetap berdiri di tempat. Hal itu membuat Roland heran.

  "Anu... ada apa?" tanya Roland
  "Tidak, tidak ada apa-apa" balas Lilysha. "Hanya saja... saya tidak bisa memalingkan kedua mata saya dari anda"
  "Hah? Apakah ada sesuatu dariku yang menjijikan?" tanya Roland bingung

Lilysha berusaha sekuat tenaga untuk tidak menepuk keningnya sendiri atas respon Roland. Setidaknya kini dia tahu jika Roland adalah tipe laki-laki yang kurang peka.

  "Tidak tuan. Wajah tuan begitu menawan. Aku menyukai pria seperti anda tuan" puji Lilysha
  "Oh, begitu ya? Terimakasih atas pujiannya" balas Roland
  "Datar sekali?! Aku belum pernah bertemu dengan manusia yang tidak peka seperti ini!" geram Lilysha dalam hati
  "Anda juga memiliki kemampuan untuk menebak isi kepala rekanku yang tadi. Sebagai atasannya, aku mohon maaf jika kata-kata dari mulutnya kurang berkenan"

Lilysha tersenyum. Dia menyentuh pipi Roland. Karena kaget, Roland menatap mata Lilysha dan pada saat itu juga, Lilysha menggunakan mantra hipnotis miliknya secara diam-diam.

  "Maukah anda... menemani saya malam ini?" tanya Lilysha sambil tersenyum

Suasana menjadi hening sesaat. Roland memegang tangan Lilysha yang memegang pipinya dan menjauhkan tangan Lilysha tersebut sambil menggelengkan kepalanya. Hal ini membuat Lilysha terkejut karena mantra hipnotisnya tidak bekerja pada Roland.

  "Mohon maaf, tetapi aku masih punya tugas" ucap Roland

Lilysha mencoba memegang tangan Roland dan menyentuh pipi Roland dengan tangan sebelahnya lagi. Sekali lagi dia mencoba menghipnotis Roland tetapi sekali lagi mantranya gagal. Roland hanya menggelengkan kepalanya.

  "Mengapa?" tanya Lilysha
  "Nafasku ada untuk melindungi orang lain, pedang dan tamengku ada untuk melayani orang lain yang memerlukan bantuan" jawab Roland. "Jika ada pembunuh yang berkeliaran di kota ini, maka aku harus segera menemukannya. Jika dia hanya menargeti para prajurit, maka itu tidak jadi masalah tapi lain halnya jika dia menargeti orang-orang tak berdosa"

Lilysha terdiam sesaat. Roland masih belum sadar jika dia baru saja coba dihipnotis tetapi gagal 2 kali. Lilysha hanya heran mengapa hipnotisnya gagal, tidak pernah ada laki-laki yang luput dari hipnotisnya.

  "Ah? Roland?"

Mendengar suara familiar, baik Lilysha dan Roland menoleh ke sumber suara. Tyn yang baru saja tiba terdiam sesaat memandangi Roland dan Lilysha. Kedua mata Tyn berkaca-kaca melihat tangan Lilysha yang menyentuh pipi Roland.

  "Tyn?" gumam mereka berdua kompak

Tyn langsung berlari keluar meninggalkan mereka.

  "Tyn! Tunggu!" teriak Roland

Roland berlari mengejar Tyn tergesa-gesa. Lilysha menggaruk kepalanya sesaat, tetapi kemudian dia menyadari apa yang terjadi. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak.

  "Wah, wah, sepertinya aku kalah dari Tyn ya? Tidak heran mengapa dia tidak jatuh dalam pengaruhku" pikir Lilysha sambil tersenyum. "Jika Tyn bukan wadahku, mungkin sudah kubunuh dia. Yah, tidak apalah... masih ada banyak ikan di lautan lepas ini fufufufufu"

****************

  Tyn berlari ke luar penginapan dengan air mata. Roland mengikutinya dari belakang. Tyn tetaplah Tyn; meskipun kini dia jauh lebih cepat dari Roland, dia masih tetap merupakan perempuan yang ceroboh.

BUAGH! Tyn menabrak sebuah tiang lampu di tengah jalan dan langsung terjatuh. Roland akhirnya bisa mengejar Tyn juga.

  "Tyn! Tunggu!" ucap Roland sambil memegang tangan Tyn

Tyn terlalu malu untuk menatap Roland jadi dia hanya menundukan kepalanya. Roland menarik nafas sesaat karena lelah mencoba mengejar Tyn yang jauh lebih cepat darinya sekarang.

  "A...anu... aku tidak tahu kalau kau..." ucap Tyn
  "Salah! Dia tadi hanya sekedar kagum saja!" bantah Roland
  "T...tapi..."

Sebelum Tyn selesai berbicara, Roland langsung memeluk Tyn. Wajah Tyn langsung menjadi merah dan jantungnya berdebar-debar.

  "Tyn, dengar, ada sesuatu yang harus kukatakan" ucap Roland
  "A-a... aku juga!" balas Tyn

Tyn melepas pelukan Roland. Dia menelan ludah dan mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya. Kini dia tahu jika Lilysha mengincar Roland juga dan Tyn tidak berniat untuk membiarkan Lilysha menerkam orang yang disukainya.

  "Roland! A....aku... aku menc-"

Seseorang berlari keluar dari jalur sempit yang gelap ke arah Roland dari belakang. Orang itu memegang pedang di tangannya. Roland yang bisa mendengar suara langkah kaki tersebut menoleh ke belakang dan melihat orang tersebut berlari ke arahnya.

Tanpa keraguan, orang itu mengayunkan pedangnya pada Roland tetapi Roland dengan cekatan mendorong Tyn dan menghunus pedangnya untuk menangkis serangan dari orang tak dikenal tersebut.

KLANG!!

  "Roland! Dasar kau monster pembunuh kaum Logrhaim!" teriak orang tersebut
  "Tsk" geram Roland

Tidak salah lagi, sosok itu adalah penyusup dari kerajaan Logrhaim; kerajaan yang sedang berperang dengan kekaisaran. Jika ada 1 dari mereka di dalam, berarti ada beberapa lagi di sekitarnya.

Dugaan Roland tepat, beberapa orang berlari keluar dari sudut-sudut gelap jalanan dan mencoba menyerang Tyn. Tetapi sebelum mereka bahkan bisa mendekati Tyn, tubuh mereka tiba-tiba terbakar oleh api hitam.

Hanya dalam sekejap, mereka langsung hangus menjadi debu di tanah. Orang yang tadi menyerang Roland tiba-tiba berhenti bergerak. Darah mulai keluar dari lehernya. Tiba-tiba kepalanya pun terputus dan berguling-guling di tanah. Di belakang orang itu, ada Lilysha yang terlihat lega.

  "Fiuh, ya ampun. Membuat keributan di tengah malam, membuatku kesal saja. Tidak tahukah kalian tidur malam itu penting untuk kulit seorang perempuan?" keluh Lilysha

Gludug! Mayat dari orang yang menyerang Roland tadi terjatuh ke tanah. Roland memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan tidak ada penyerang lagi. Setelah yakin tidak ada penyerang lagi, dia menyimpan pedangnya dan berlari pada Tyn.

  "Tyn! Kau tidak apa-apa?" tanya Roland
  "Eh? Ya..." balas Tyn gugup

Lilysha berjalan menghampiri Tyn juga sambil tersenyum melihat Tyn. Roland bangkit berdiri menghadapi Lilysha untuk sesaat.

  "Yah, tolong urus adikku ini ya" ucap Lilysha
  "EEEEEH?!" respon Tyn mendengar Lilysha
  "Adik?" gumam Roland
  "Yaah, memang tidak ada hubungan darah tapi dia itu seperti adikku sendiri"

Roland menggaruk kepalanya untuk sesaat tapi kemudian menganggukan kepalanya. Lilysha membantu Tyn berdiri.

  "Dengar manisku, kau benar-benar perempuan yang beruntung. Sangat disayangkan dia tidak bisa kuterkam tapi tidak apalah, masih ada banyak ikan di luar sana" ucap Lilysha melalui telepati

Lilysha membungkuk sesaat di hadapan Roland.

  "Sekarang permisi dulu, saya masih harus melayani pelanggan yang lain" pamit Lilysha

Lilysha berjalan dengan riang kembali ke dalam penginapan meninggalkan Tyn dan Roland sendirian bersama mayat-mayat para penyerang. Roland menghela nafas sesaat.

  "A.. anu... Roland?"
  "Hm?"
  "Anu.... aku... aku mencintaim-"
  "Jika ada penyusup di sini... berarti tempat ini sudah tidak aman lagi" gumam Roland. "Tyn, jangan jauh-jauh dariku. Aku akan segera memanggil rekan-rekanku"
  "Eh? EEEEEH?!"

Roland menarik tangan Tyn dan berjalan kembali masuk ke dalam Tyn.

  "Padahal aku baru saja mendapatkan kesempatan berduaan dengan Roland...." rengek Tyn dalam hati

******************
Bersambung

  Episode selanjutnya,

  Tyn mendapatkan panggilan dari Leisha, seniornya untuk membantunya mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk sebuah desa terpencil yang terkena perang. Sementara itu, relik iblis yang diambil oleh Lilysha mulai menunjukan reaksi yang menandakan adanya keberadaan sesosok iblis lain yang menyusup ke dunia ini.

Tidak ada jaminan jika iblis tersebut adalah bawahannya Lilysha dan Lilysha berniat untuk berhati-hati dalam bertindak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar